Ketegangan Dagang Bertambah, Perusahaan AS Hati-Hati Terhadap Tiongkok
WASHINGTON, investor.id – Perusahaan multinasional Amerika Serikat (AS) dan Eropa semakin berhati-hati tentang investasi modal mereka di Tiongkok karena kekhawatiran geopolitik, menurut konsultan risiko.
Direktur pelaksana IMA Asia Richard Martin mengatakan ketegangan perdagangan AS yang sedang berlangsung dengan Tiongkok adalah alasan utama kehati-hatian investasi yang ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika.
“Tanpa diragukan lagi, itu adalah risiko geopolitik karena perusahaan-perusahaan AS menjadi lebih berhati-hati dari pemerintahan (mantam presiden Donald) Trump dalam perang dagang,” katanya kepada CNBC, dikutip Senin (20/2).
Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden (AS) Joe Biden saat ini sedang meninjau sanksi yang dijatuhkan di bawah pimpinan Trump. Trump memungut tarif pada barang-barang impor dari Tiongkok dalam perang dagang pembalasan yang telah berlangsung lama dengan Tiongkok, dalam upaya meningkatkan barang-barang buatan AS.
Sama seperti perusahaan-perusahaan Eropa, kata Martin, pemerintah Tiongkok juga memiliki kekhawatiran atas serangan Rusia ke Ukraina.
“Jadi, di tingkat dewan Anda duduk di sana dan berkata, ‘Kita baru saja kehilangan (bisnis) baju kita di Rusia. Kita harus menutup operasi kami dan menjualnya’. Apakah ada kemungkinan yang mungkin terjadi di Tiongkok? Dan tentu saja jawabannya adalah, ya, ada,” kata Martin.
“Jadi semua orang sibuk dengan operasi mereka di Tiongkok (bertanya) bagaimana kita mengurangi risikonya?” tanyanya.
Serangan tanpa alasan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari tahun lalu mendorong semakin banyak perusahaan yang menghindari melakukan bisnis dengan Rusia, karena perusahaan-perusahaan berebut untuk memutuskan hubungan ketika pemerintah asing meningkatkan sanksi ekonomi yang menghukum banyak bisnis.
Perusahaan raksasa energi Eropa seperti BP, Shell, dan Equinor semuanya mengumumkan rencana untuk mengakhiri usaha patungan di Rusia.
Pertumbuhan Tiongkok
Martin lebih lanjut menyoroti perusahaan asing perlu mencari tahu bagaimana mereka ingin mengurangi risiko mereka di Tiongkok.
“Ya, beberapa perusahaan akan melakukan diversifikasi. Tetapi mereka tidak ingin melakukan diversifikasi jauh dari pasar pertumbuhan terbesar di dunia,” katanya.
“Bahkan pada pertumbuhan 3% atau 4%, Tiongkok akan menambah lebih banyak nilai dolar dalam lima tahun ke depan daripada Amerika Serikat. Anda tidak bisa menjauh dari itu,” imbuh Martin.
Perekonomian Tiongkok tumbuh hanya 3% pada 2022, menurut angka resmi yang terungkap pada Januari 2023. Ini merupakan tingkat pertumbuhan paling lambat kedua sejak 1976 dan jauh di bawah target pemerintah sekitar 5,5%.
Namun, pembukaan kembali ekonomi Tiongkok setelah pergeseran dari kebijakan nol Covid-19 akan membantu mengangkat pertumbuhan di kuartal kedua, kata Martin.
“Gelombang Covid-19 melanda mereka pada Januari. Jadi pekerja mereka jatuh sakit pada minggu pertama Januari. Dan dengan datangnya Tahun Baru Imlek di akhir bulan, mereka tidak kembali,” kata dia.
“Jadi kita akan melihat lubang raksasa di kuartal pertama. Kuartal kedua, mereka mendapatkan kembali sektor jasa mereka dan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok akan terangkat dan itu merupakan nilai tambah untuk semuanya,” tukas Martin.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

