Jumat, 15 Mei 2026

Laba Sebelum Pajak HSBC Merosot karena Penjualan di Prancis

Penulis : Grace El Dora
21 Feb 2023 | 21:34 WIB
BAGIKAN
Logo HSBC terpampang di dinding luar kantor cabang Bank HSBC di pusat kota London, pada 3 Agustus 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )
Logo HSBC terpampang di dinding luar kantor cabang Bank HSBC di pusat kota London, pada 3 Agustus 2020. ( Foto: DANIEL LEAL-OLIVAS / AFP )

LONDON, investor.id – Bank raksasa HSBC mengatakan laba sebelum pajak tahunan jatuh setelah mengambil beban besar pada penjualan operasi ritel Perancis.

Laba sebelum pajak turun lebih dari 7% menjadi US$ 17,5 miliar (16,4 miliar euro) tahun lalu, setelah penurunan besar US$ 2,4 miliar pada rencana divestasi unit Prancis.

Raksasa keuangan yang terdaftar di London menambahkan pendapatan tumbuh 4% menjadi US$ 51,7 miliar, dengan bank diuntungkan dari suku bunga yang lebih tinggi.

Laba bersih melonjak hampir seperlima menjadi US$ 14,8 miliar karena pertumbuhan mendasar di bidang-bidang utama, setelah HSBC menjauh dari pasar Barat dan fokus kembali di Asia.

ADVERTISEMENT

“Hasil (laporan keuangan) yang kami umumkan hari ini membuktikan ada peningkatan dalam bisnis ini,” kata CEO Noel Quinn, dilansir dari AFP, Selasa (21/2).

“Kami secara mendasar mengubah profitabilitas dari bisnis yang merugi, atau hampir merugi di Amerika Serikat (AS) dan di Eropa,” tambahnya.

HSBC setuju pada 2021 untuk menjual aktivitas ritel di Prancis kepada pemberi pinjaman Prancis My Money Group dengan nominal satu euro.

Namun pada saat itu disebutkan kesepakatan tersebut tidak bisa rampung sampai semester I-2023.

Berita itu muncul setelah mengumumkan rencana untuk keluar dari pasar perbankan ritel dan bisnis kecil di AS, sebagai bagian dari poros menuju Asia.

Pemberi pinjaman tersebut mengakui sulitnya iklim ekonomi global yang dihadapi bank-bank internasional.

Ia mengutip wabah virus baru di Hong Kong dan Tiongkok daratan sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi tahun lalu.

Krisis Biaya Hidup

HSBC menambahkan ketidakpastian global atas serangan Rusia ke Ukraina, peningkatan inflasi, dan kenaikan suku bunga telah memicu krisis biaya hidup serta kekhawatiran meningkatnya kredit macet.

Itu telah berkontribusi pada lingkungan keuangan yang sulit yang akan berlanjut hingga 2023.

“Kami sudah melihat ... krisis biaya hidup yang memengaruhi banyak pelanggan dan kolega kami," kata Chairman HSBC Mark Tucker.

Pemberi pinjaman itu telah berjanji untuk mempercepat porosnya ke Asia dan Timur Tengah, ditambah ambisinya untuk memimpin pasar manajemen kekayaan Asia telah menunjukkan tanda-tanda awal keberhasilan.

Pada November 2022, bank tersebut setuju untuk menjual divisinya di Kanada sebesar US$ 10,1 miliar. Dana dari penjualan tersebut akan digunakan untuk berinvestasi dalam bisnis intinya dan mengembalikan uang tunai kepada investor.

Penjualan Kanada terjadi setelah kampanye selama berbulan-bulan oleh pemegang saham terbesar HSBC dan raksasa asuransi Tiongkok Ping An untuk memangkas biaya dan mengalihkan lebih banyak sumber daya ke Asia.

Ping An berpendapat bahwa spin off operasi HSBC di Asia akan membuka nilai pemegang saham di tengah ketegangan antara kekuatan Tiongkok dan Barat, meskipun bank itu telah menolak langkah tersebut.

HSBC pada Selasa mengumumkan dividen setahun penuh sebesar US$ 0,32 per saham setelah apa yang digambarkannya sebagai “kinerja keuangan keseluruhan yang kuat”.

Sebagai reaksi, investor mengirim saham HSBC 3,3% lebih tinggi menjadi 1.220 pence per lembar saham menjelang tengah hari, memuncaki papan gainer di indeks FTSE 100 London yang menurun.

“Skala besar dan kekuatan finansial HSBC terus meringankan biaya transformasinya menjadi bank yang lebih berfokus pada Asia,” kata Richard Hunter, kepala pasar di Interactive Investor.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 37 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 41 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia