Pasar Tenaga Kerja AS Tetap Solid
WASHINGTON, investor.id – Penciptaan lapangan kerja baru di Amerika Serikat (AS) melambat pada Februari 2023, tetapi masih lebih kuat dari yang perkiraan. Sehingga menambah berat beban The Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan inflasi dengan meredam sisi permintaan.
Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS melaporkan pada Jumat (10/3/2023), lapangan kerja baru non-pertanian bertambah 311.000 pada Februari 2023. Berarti melampaui perkiraan Dow Jones yang sebanyak 225.000 dan menjadi pertanda bahwa pasar tenaga kerja AS masih panas.
Tingkat pengangguran naik menjadi 3,6%, juga di atas ekspektasi 3,4% di tengah kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 62,5% atau level tertinggi sejak Maret 2020.
Ada juga kabar baik di sisi inflasi, karena rata-rata pendapatan per jam naik 4,6% dari tahun lalu atau di bawah estimasi 4,8%. Kenaikan bulanan yang sebesar 0,2% juga di bawah perkiraan 0,4%.
Meskipun jumlah lapangan kerja baru lebih kuat dari ekspektasi, pertumbuhan pada Februari tetap menunjukkan perlambatan dari Januari yang luar biasa kuat.
Tahun 2023 dibuka dengan penambahan lapangan kerja baru non-pertanian sebanyak 504.000. Berarti ada revisi turun dari laporan awal yang mencapai 517.000. Total penambahan untuk Desember 2023 juga diturunkan sedikit menjadi 239.000 atau berkurang 21.000 dari perkiraan sebelumnya.
Laporan bulanan ketenagakerjaan itu kemungkinan membuat The Fed berada di jalur yang tepat untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan 21-22 Maret 2023. Tetapi sekarang, para pialang menurunkan peluang bank sentral akan untuk mempercepat kenaikan menjadi 0,5 poin persentase.
Menurut perkiraan CME Group, peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Maret 2023 turun menjadi 48,4%. “Mungkin berita terbaik dari laporan ini adalah pelonggaran tekanan upah. Penurunan biaya terbesar untuk bisnis adalah perkembangan yang baik. Meskipun demikian, peluang 50 basis poin masih terbuka untuk pertemuan kebijakan bulan Maret, mengingat kekuatan ekonomi baru-baru ini dan bergantung pada laporan inflasi konsumen minggu depan,” kata John Lynch, kepala investasi di Comerica Wealth Management, seperti dikutip CNBC. (sumber lain)
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






