Jumat, 15 Mei 2026

Pasar Tenaga Kerja AS Tetap Solid

Penulis : Iwan Subarkah
11 Mar 2023 | 09:08 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi poster perekrutan tenaga kerja di sebuah jendela pertokoan di Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / SPENCER PLATT)
Ilustrasi poster perekrutan tenaga kerja di sebuah jendela pertokoan di Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / SPENCER PLATT)

WASHINGTON, investor.id – Penciptaan lapangan kerja baru di Amerika Serikat (AS) melambat pada Februari 2023, tetapi masih lebih kuat dari yang perkiraan. Sehingga menambah berat beban The Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan inflasi dengan meredam sisi permintaan.

Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS melaporkan pada Jumat (10/3/2023), lapangan kerja baru non-pertanian bertambah 311.000 pada Februari 2023. Berarti melampaui perkiraan Dow Jones yang sebanyak 225.000 dan menjadi pertanda bahwa pasar tenaga kerja AS masih panas.

Tingkat pengangguran naik menjadi 3,6%, juga di atas ekspektasi 3,4% di tengah kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 62,5% atau level tertinggi sejak Maret 2020.

ADVERTISEMENT

Ada juga kabar baik di sisi inflasi, karena rata-rata pendapatan per jam naik 4,6% dari tahun lalu atau di bawah estimasi 4,8%. Kenaikan bulanan yang sebesar 0,2% juga di bawah perkiraan 0,4%.

Meskipun jumlah lapangan kerja baru lebih kuat dari ekspektasi, pertumbuhan pada Februari tetap menunjukkan perlambatan dari Januari yang luar biasa kuat.

Tahun 2023 dibuka dengan penambahan lapangan kerja baru non-pertanian sebanyak 504.000. Berarti ada revisi turun dari laporan awal yang mencapai 517.000. Total penambahan untuk Desember 2023 juga diturunkan sedikit menjadi 239.000 atau berkurang 21.000 dari perkiraan sebelumnya.

Laporan bulanan ketenagakerjaan itu kemungkinan membuat The Fed berada di jalur yang tepat untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan 21-22 Maret 2023. Tetapi sekarang, para pialang menurunkan peluang bank sentral akan untuk mempercepat kenaikan menjadi 0,5 poin persentase.

Menurut perkiraan CME Group, peluang The Fed menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Maret 2023 turun menjadi 48,4%. “Mungkin berita terbaik dari laporan ini adalah pelonggaran tekanan upah. Penurunan biaya terbesar untuk bisnis adalah perkembangan yang baik. Meskipun demikian, peluang 50 basis poin masih terbuka untuk pertemuan kebijakan bulan Maret, mengingat kekuatan ekonomi baru-baru ini dan bergantung pada laporan inflasi konsumen minggu depan,” kata John Lynch, kepala investasi di Comerica Wealth Management, seperti dikutip CNBC. (sumber lain)

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 6 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia