Pertarungan AS Melawan Inflasi Masih Panjang
WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell pada Rabu (21/06/2023) memastikan ada kenaikan suku bunga lagi sampai ada lebih banyak kemajuan untuk menurunkan inflasi.
Berbicara satu pekan setelah para anggota Komite Pasar Terbuka Federal atau FOMC memutuskan untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun mempertahankan suku bunga acuan, Powell mengindikasikan bahwa langkah tersebut kemungkinan hanya jeda singkat. Bukannya indikasi bahwa The Fed telah selesai mendaki.
“Hampir semua peserta FOMC memperkirakan akan tepat untuk menaikkan suku bunga lebih jauh pada akhir tahun ini,” kata Powell, dalam sambutan untuk rapat dengar pendapat di Komisi Jasa Keuangan DPR AS di Washington, seperti dikutip CNBC.
Pidato tersebut merupakan bagian dari penampilan tengah tahunannya di Capitol Hill untuk memperbarui para wakil rakyat AS tentang kebijakan moneter. Menyusul pertemuan dua hari FOMC pekan lalu, para pejabat mengindikasikan kenaikan suku bunga 0,5 poin persentase hingga akhir tahun 2023.
Berarti akan ada dua kali tambahan kenaikan fed funds rate (FFR), dengan asumsi penaikan masing-masing sebesar seperempat poin.
Suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 5%-5,25%. Dengan menimbang bahwa inflasi telah mereda tetapi tetap jauh di atas target The Fed yang sebesar 2%, Powell mengatakan The Fed masih memiliki lebih banyak pekerjaan rumah.
"Inflasi agak moderat sejak pertengahan tahun lalu. Meskipun demikian, tekanan inflasi terus tinggi dan proses untuk menurunkan inflasi menjadi 2% masih jauh,” kata dia.
Para pejabat The Fed umumnya lebih suka melihat inflasi inti. Yaitu inflasi yang tidak termasuk harga pangan dan energi. Sedangkan inflasi yang menjadi preferensi The Fed, yakni indeks belanja konsumsi pribadi atau PCE berada di level tahunan 4,7% hingga April 2023.
Sementara inflasi inti AS pada Mei berada di level 5,3%. Pergerakan kebijakan moneter, seperti kenaikan suku bunga dan upaya The Fed untuk melepaskan kepemilikan obligasi di neracanya, cenderung berjalan lambat.
Hal ini yang mendasari keputusan The Fed untuk menahan siklus kenaikan suku bunga pada Juni 2023, karena masih ingin mengamati dampak pengetatan kebijakan yang sudah berjalan terhadap perekonomian.
Powell mengatakan pasar tenaga kerja masih ketat meskipun ada tanda-tanda pelonggaran. Seperti peningkatan partisipasi angkatan kerja dalam kelompok usia 25 hingga 54 tahun dan kenaikan upah yang moderat.
Namun, ia mencatat bahwa jumlah pekerjaan terbuka masih jauh melebihi jumlah tenaga kerja yang tersedia.
“Kami telah melihat efek pengetatan kebijakan kami pada permintaan di sektor ekonomi yang paling sensitif terhadap suku bunga. Tapi akan memakan waktu untuk mendapatkan efek penuh dari pengetatan moneter, terutama pada inflasi," kata dia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






