Presiden Turki, Sekjen NATO Bahas Perkembangan Terakhir Rusia
ISTANBUL, investor.id – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg melakukan pembicaraan di telepon membahas perkembangan terakhir di Rusia dan keanggotaan Swedia di NATO, menurut pernyataan Direktorat Komunikasi Turki.
Selama pembicaraan tersebut, ditunjukkan bahwa berakhirnya ketegangan di Rusia telah mencegah terjadinya tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibatalkan di wilayah Ukraina, kata pernyataan tersebut.
Disampaikan kepada Stoltenberg, pemerintah Turki berharap perkembangan terakhir di Rusia akan menjadi tonggak sejarah baru menuju perdamaian yang adil di Ukraina, lanjut pernyataan itu, dikutip dari kantor berita globalTurki Anadolu.
“Turki mempertahankan sikap konstruktifnya mengenai keanggotaan Swedia, tetapi amendemen perundang-undangan tidak akan berarti selama pendukung PKK/ PYD/ YPG mengorganisasi demonstrasi secara bebas di negeri ini,” tegas pernyataan tersebut, dikutip Senin (26/6).
Selama 35 tahun lebih melakukan kampanye teror melawan Turki, PKK yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa (UE) bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40 ribu orang termasuk perempuan, anak-anak, dan bayi.
Pejabat Turki mengatakan Swedia mentoleransi dan bahkan mendukung anggota PKK di wilayahnya dan langkah yang diambil untuk mengubahnya perlu dibuktikan sebelum dapat bergabung dengan aliansi tersebut.
Selanjutnya, digarisbawahi ketidakadilan yang dihadapi dalam konteks F-35 dan upaya untuk mengaitkan permintaan Turki tentang F-16 dengan keanggotaan Swedia akan merugikan NATO dan keamanannya daripada merugikan Turki.
Sebelumnya, kelompok paramiliter Wagner menuduh pasukan Rusia pada Jumat (23/6) menyerang para pejuangnya sehingga kelompok tersebut kemudian menyeberang dari Ukraina ke kota Rostov-on-Don, Rusia.
Menanggapi hal itu, Dinas Keamanan Federal di Rusia menggugat pidana Wagner untuk pemberontakan bersenjata. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pemberontakan Wagner sebagai tindakan “pengkhianatan”.
Pemimpin Wagner Yevgeny Prigozhin kemudian mengemukakan pejuangnya memutuskan kembali guna menghindari pertumpahan darah ketika berjarak 200 kilometer dari Moskow, Rusia. Sedangkan Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengatakan dirinya melakukan pembicaraan dengan pemimpin Wagner atas persetujuan Putin dan Prigozhin menerima kesepakatan de-eskalasi.
Selama beberapa bulan terakhir, Prigozhin telah berulang kali menuding Kementerian Pertahanan Rusia dan Menteri Pertahanan Sergey Shoygu karena tidak memasok senjata yang cukup untuk kelompok paramiliter tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






