Jumat, 15 Mei 2026

Fenomena El Nino Muncul, Pertama Kali Setelah 7 Tahun

Penulis : Happy Amanda Amalia
5 Jul 2023 | 17:00 WIB
BAGIKAN
Seorang anggota satpam menyeka keringat sambil di lehernya tergantung kipas listrik mini di hari yang panas menyengat di Beijing, Tiongkok pada 3 Juli 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)
Seorang anggota satpam menyeka keringat sambil di lehernya tergantung kipas listrik mini di hari yang panas menyengat di Beijing, Tiongkok pada 3 Juli 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)

JENEWA, investor.id Suhu udara diperkirakan melonjak di sebagian besar wilayah dunia, menurut Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO). Ini disebabkan kemunculan kembali pola cuaca El Nino di Kawasan Pasifik tropis untuk kali pertama dalam tujuh tahun terakhir.

WMO telah menyampaikan pada Mei 2023 bahwa ada kemungkinan besar, sedikitnya satu dari lima tahun ke depan, dan periode lima tahun secara keseluruhan, bakal menjadi momen terpanas yang pernah tercatat karena El Nino dan pemanasan global antropogenik.

“Sulit untuk mengatakan apakah itu akan terjadi tahun ini atau tahun depan. Apa yang kita ketahui adalah, bahwa selama lima tahun ke depan, kita mungkin akan mengalami salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat,” ujar Kepala Layanan Prediksi Iklim Regional di WMO Wilfran Moufouma Okia, kepada para wartawan di Jenewa, Swiss, dilansir Reuters pada Selasa (04/07/2023).

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan air di Samudra Pasifik bagian timur dan tengah, yang terkait dengan kondisi cuaca ekstrim dari siklon tropis, hujan lebat, hingga kekeringan parah.

Tahun terpanas di dunia, yakni 2016, bertepatan dengan El Nino yang kuat. Meskipun para ahli mengatakan, perubahan iklim telah memicu suhu ekstrem bahkan di tahun-tahun tanpa fenomena tersebut “Bahkan rekor tersebut dapat segera terpecahkan,” demikian penuturan WMO.

Selama periode El Nino, angin yang bertiup ke arah barat di sepanjang garis khatulistiwa melambat, dan air hangat terdorong ke arah timur, sehingga suhu permukaan laut menjadi lebih hangat.

“Fenomena tersebut terjadi rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun, dan dapat berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan,” kata WMO.

Hal itu biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di beberapa bagian Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Di masa lalu, periode El Nino sempat menyebabkan kekeringan parah di Australia, Indonesia, sebagian Asia Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan bagian utara.

Merespons kondisi itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan lalu menyampaikan pihaknya sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi peningkatan penyebaran penyakit virus seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya yang terkait dengan El Nino.

“Kami bahkan dapat memperkirakan adanya peningkatan penyakit menular karena suhu tersebut,” ungkap Direktur Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan di WHO Maria Neira.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia