Gelombang Panas Bikin Stres Naik, Produktivitas Turun
LONDON, investor.id – Cuaca esktrem dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan dunia nyata. Semisal yang dialami kawasan Eropa saat dilanda gelombang panas pada 2022, di mana negara-negara di Benua Biru itu mengalami kebakaran hutan, kekeringan, dan kematian.
Konsekuensi planet yang makin hangat juga akan berdampak ke berbagai aspek dan memengaruhi miliaran orang, termasuk dunia kerja. Laporan terbaru dari Institution of Mechanical Engineers (IMechE) menggambarkan, bagaimana karyawan dapat terpengaruh ketika suhu udara meningkat.
“Ada banyak hal selain sekadar lelah, letih dan tidak dapat fokus pada tugas-tugas yang harus dilakukan. Hal ini termasuk meningkatnya potensi kecelakaan karena pemikiran kognitif manusia tidak setajam biasanya,” ujar Tim Fox, penulis laporan tersebut, menurut laporan CNBC internasional pada Rabu (05/07/2023).
Fox melanjutkan, isu-isu yang berkaitan dengan produktivitas juga berlaku untuk peralatan, fasilitas, hingga bangunan.
“Panas yang berlebihan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya produktivitas ekonomi, sehingga berdampak pada ekonomi nasional dan internasional,” katanya.
Berdasarkan proyeksi Kantor Meteorologi Inggris, musim panas di negaranya bakal menjadi lebih hangat antara 1 derajat Celcius hingga 6 derajat Celcius pada 2070 dan udara 60% lebih kering. Menurut data ini, gelombang panas global yang terkait dengan perubahan iklim kemungkinan besar meningkat.
Bahkan baru minggu ini mereka mengatakan Juni adalah bulan terpanas di Inggris.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Mei 2023 menyampaikan ada kemungkinan 98%, sedikitnya satu dari lima tahun ke depan, serta periode lima tahun secara keseluruhan, akan menjadi tahun terpanas dalam sejarah.
Fox dan rekan-rekannya mengatakan mereka tidak sendirian dalam menyoroti kesulitan-kesulitan di dunia yang suhunya makin panas. Semisal pada 2019, Organisasi Buruh Internasional (ILO) telah menerbitkan laporan yang berisi beberapa rincian yang serius.
“Kerugian ekonomi akibat tekanan panas di tempat kerja diperkirakan mencapai US$ 280 miliar pada 1995. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi US$ 2.400 miliar pada 2030, seiring dampak tekanan panas yang paling terasa di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah,” kata ILO.
Beban Terberat
Laporan ILO juga menyoroti sektor-sektor yang kemungkinan besar menanggung beban terberat dari kenaikan suhu rata-rata.
“Mereka yang bekerja di bidang konstruksi dan pertania diperkirakan terkena dampak terburuk, masing-masing sebesar 60% dan 19% dari jam kerja yang hilang akibat tekanan panas pada 2030,” ujarnya.
Tekanan panas adalah masalah serius. Bahkan ILO mendeskripsikan sebagai panas yang diterima melebihi batas yang dapat ditoleransi oleh tubuh tanpa gangguan fisiologis.
Pekerjaan di luar ruangan lainnya pun dapat terpengaruh. Fox menyoroti tantangan yang harus dihadapi para pekerja di kilang minyak, pabrik gas, dan bidang kimia.
“Semua pekerjaan itu melibatkan cukup banyak aktivitas di luar ruangan, dan para pekerja juga harus mengenakan alat pelindung diri karena sifat pekerjaan mereka. Pakaian tersebut selain cukup merepotkan juga cukup panas untuk dipakai bahkan dalam kondisi dingin,” papar Fox.
Pabrik menjadi area lain yang masuk sorotan Fox. Ia mencatat, bangunan semacam pabrik tidak dirancang secara khusus dengan mempertimbangkan masuknya panas terutama masuknya panas yang ekstrem.
“Mereka penuh dengan peralatan yang menghasilkan banyak panas dan sangat sulit bagi pabrik, gedung, bangunan gudang besar, untuk mendinginkan diri mereka sendiri secara pasif. Pendingin ruangan merupakan hal yang umum di kantor, tetapi tidak demikian halnya di semua tempat,” tuturnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


