Jumat, 15 Mei 2026

Pidato Gubernur The Fed Bisa Jadi Perubahan Besar

Penulis : Grace El Dora
25 Aug 2023 | 12:26 WIB
BAGIKAN
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mendengarkan sidang Komite Jasa Keuangan DPR di Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat pada 30 September 2021. (Foto: AL DRAGO/POOL/GETTY IMAGES)
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mendengarkan sidang Komite Jasa Keuangan DPR di Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat pada 30 September 2021. (Foto: AL DRAGO/POOL/GETTY IMAGES)

WASHINGTON, investor.id – Sejak mengambil alih posisi ketua di The Federal Reserve (The Fed) pada 2018, Jerome Powell telah menggunakan pidato tahunannya di pertemuan Jackson Hole, Wyoming untuk mendorong agenda kebijakan dari satu pihak ke pihak lainnya.

Tahun ini banyak yang memperkirakan pemimpin bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut akan mengubah pendiriannya, sehingga ia bisa melakukan upaya yang cukup besar.

Di tengah laju inflasi melambat dan kondisi perekonomian masih kuat, Powell mungkin tidak lagi merasa perlu memberikan arahan kepada masyarakat dan pasar keuangan. Ia malah lebih memilih sikap “call them as we see them” (sebagaimana yang kita lihat) terhadap kebijakan moneter.

ADVERTISEMENT

“Saya hanya berpikir dia akan memainkan peran ini semaksimal mungkin,” kata kepala ekonom di SMBC Nikko Securities America Joseph LaVorgna, dikutip CNBC internasional pada Jumat (25/8). Itu hanya memberinya lebih banyak pilihan karena tidak ingin membuat dirinya terpojok dengan satu atau cara lain, ujarnya.

Jika Powell benar-benar mengambil strategi tanpa berkomitmen, ini akan menempatkan pidatonya di tengah-tengah.

Misalnya seperti pidato 2022 yang sangat agresif dan singkat memperingatkan soal kenaikan suku bunga dan “kesulitan” ekonomi di masa depan, serta pengumuman kebijakan baru pada 2020. Itu adalah kerangka kerja di mana The Fed akan menunda kenaikan suku bunga hingga mencapai lapangan kerja yang disebutnya penuh dan inklusif.

Pidato kali ini akan dimulai pada hari Jumat sekitar pukul 10:05 ET.

Pasar yang Gelisah

Meskipun ada antisipasi terhadap Powell yang berhati-hati, pasar Kamis di AS bersiap menghadapi kejutan yang tidak menyenangkan dengan aksi jual saham dan di pasar obligasi imbal hasil (yield) pemerintah AS (US Treasury) naik.

Pidato tahun lalu juga menampilkan antisipasi suram dan sambutan buruk. S&P 500 saat itu turun 2% dalam lima hari perdagangan sebelum pidato dan turun 5,5% dalam lima hari setelahnya, menurut DataTrek Research.

Namun, kebimbangan satu hari di Wall Street sepertinya tidak akan menggoyahkan Powell dalam menyampaikan pesan yang diinginkannya.

“Saya tidak tahu seberapa hawkish dia, mengingat fakta suku bunga dana jelas berada dalam wilayah yang membatasi menurut definisinya dan fakta pasar akhirnya percaya pada perkiraan The Fed bahwa penurunan suku bunga tidak akan terjadi sampai sekitar pertengahan tahun atau paruh kedua tahun depan,” kata LaVorgna, yang juga kepala ekonom Dewan Ekonomi Nasional (NEC) di bawah mantan Presiden Donald Trump.

“Jadi bukan berarti The Fed harus melawan narasi pasar yang menginginkan pelonggaran dalam waktu dekat, seperti yang telah terjadi selama 12 bulan terakhir,” tambahnya.

Memang benar, pasar tampaknya akhirnya menerima gagasan The Fed telah berusaha keras melawan inflasi dan tidak akan mulai mundur sampai mereka melihat bukti yang lebih meyakinkan bahwa serentetan berita positif mengenai harga-harga baru-baru ini mempunyai pengaruh.

Namun Powell mempunyai solusi yang harus diambil, dengan meyakinkan pasar The Fed tidak akan mengulangi kesalahan masa lalunya terkait inflasi dan tidak menekan kasus ini terlalu keras. Ia juga mau meyakinkan pasar The Fed akan membawa perekonomian ke dalam kondisi yang tampaknya merupakan resesi yang dapat dihindari.

“Dia harus menyatakan The Fed akan menyelesaikan pekerjaannya. Faktanya adalah, ini soal kredibilitas mereka. Ini tentang warisannya,” kata kepala strategi global di LPL Financial Quincy Krosby.

“Dia ingin menjadi sedikit lebih hawkish daripada netral. Tapi dia tidak akan mencapai apa yang dia capai tahun lalu. Pasar telah menerima memo tersebut,” tambahnya.

Inflasi Belum Mati

Hal ini mungkin lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Inflasi telah turun ke kisaran 3%-4%, namun terdapat beberapa tanda perlambatan tersebut dapat diatasi.

Harga energi telah meningkat sepanjang musim panas. Beberapa faktor yang membantu menurunkan angka inflasi, seperti penyesuaian statistik untuk biaya asuransi layanan kesehatan, mulai memudar.

Pelacak inflasi The Fed di Cleveland memperkirakan angka inflasi Agustus akan menunjukkan lonjakan yang nyata. Imbal hasil obligasi telah melonjak akhir-akhir ini, respons yang setidaknya sebagian dapat mengindikasikan antisipasi lonjakan inflasi.

Pada saat yang sama, konsumen semakin merasakan dampaknya. Total utang kartu kredit telah melampaui US$ 1 triliun untuk pertama kalinya. Bank Sentral San Francisco baru-baru ini menyatakan kelebihan tabungan yang dikumpulkan konsumen dari pembayaran transfer pemerintah akan habis dalam beberapa bulan.

Bahkan ketika upah pekerja meningkat secara riil, inflasi masih menjadi beban.

“Ketika semua sudah dikatakan dan dilakukan, jika kita tidak mengendalikan inflasi, seberapa jauh dampaknya terhadap upah? Dengan kartu kredit mereka, dengan makanan, dengan energi. Itulah dilema baginya. Dia telah dimasukkan ke dalam perangkap politik,” ungkap kata Krosby.

Powell memimpin The Fed yang sebagian besar cenderung mempertahankan suku bunga tetap tinggi, meskipun ada kemungkinan penurunan suku bunga tahun depan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 51 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia