Jumat, 15 Mei 2026

The Fed: Inflasi Terlalu Tinggi, Bersiap Naikkan Suku Bunga Lagi

Penulis : Grace El Dora
26 Aug 2023 | 04:19 WIB
BAGIKAN
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell (tengah) berjabat tangan dengan Gubernur Bank Sentral Islandia Asgeir Jonsson pada simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole tahunan di Taman Nasional Grand Teton, Moran, Wyoming, Amerika Serikat pada 26 Agustus 2022. (Foto: AP/Amber Baesler, File)
Gubernur Federal Reserve Jerome Powell (tengah) berjabat tangan dengan Gubernur Bank Sentral Islandia Asgeir Jonsson pada simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole tahunan di Taman Nasional Grand Teton, Moran, Wyoming, Amerika Serikat pada 26 Agustus 2022. (Foto: AP/Amber Baesler, File)

JACKSON HOLE, investor.id – Kekuatan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang berkelanjutan mungkin memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut, kata Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell pada Jumat (26/8). Dalam pidatonya, Powell mengatakan inflasi terlalu tinggi dan perlu bersiap untuk kembali menaikkan suku bunga.

Powell menyoroti sifat ketidakpastian dari prospek ekonomi. Ia mencatat perekonomian telah tumbuh lebih cepat dari perkiraan dan konsumen terus berbelanja dengan cepat. Tren ini dapat menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

Ia menegaskan kembali tekad The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap tinggi sampai inflasi turun ke target 2%.

ADVERTISEMENT

“Kami memperhatikan tanda-tanda perekonomian mungkin tidak melambat seperti yang diharapkan,” kata Powell, seperti dikutip AP, Jumat.

“Kami siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan dan bermaksud untuk mempertahankan kebijakan pada tingkat yang ketat, sampai kami yakin inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju tujuan kami,” paparnya.

“Meskipun inflasi telah turun dari puncaknya, sebuah perkembangan yang menggembirakan, namun inflasi masih terlalu tinggi,” tegas dia.

Pidato Powell pada konferensi tahunan para gubernur bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, menyoroti ketidakpastian seputar perekonomian dan kompleksitas respons The Fed terhadapnya.

Hal ini kontras dengan pernyataannya tahun lalu, ketika ia secara blak-blakan memperingatkan The Fed akan melanjutkan kampanye kenaikan suku bunga yang tajam untuk mengendalikan lonjakan harga.

“Jika menyangkut kenaikan suku bunga lagi, ketua masih harus menentukan pemicunya, meskipun hal itu tidak terlalu mengganggu dibandingkan tahun lalu,” kata Omair Sharif, kepala ekonom di Inflation Insights.

Suku bunga pinjaman yang jauh lebih tinggi, yang merupakan akibat langsung dari kenaikan suku bunga The Fed, telah mempersulit masyarakat Amerika Serikat (AS) untuk membeli rumah atau mobil, atau bagi dunia usaha untuk membiayai ekspansi.

Pada saat yang sama, barang-barang seperti sewa, makan di restoran, dan layanan lainnya masih semakin mahal.

Inflasi “inti”, yang tidak termasuk harga pangan dan energi yang fluktuatif, tetap tinggi meskipun The Fed telah melakukan 11 kenaikan suku bunga berturut-turut yang dimulai bulan Maret 2022.

Meskipun demikian, perekonomian secara keseluruhan telah bergerak maju.

Perekrutan tenaga kerja tetap sehat, sehingga membingungkan para ekonom yang memperkirakan bahwa lonjakan tingkat suku bunga akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan resesi secara luas.

Indeks belanja konsumen (CPI) terus tumbuh pada tingkat yang sehat. Sementara itu, tingkat pengangguran AS sama persis dengan tingkat pengangguran ketika Powell berbicara tahun lalu yakni 3,5%, sedikit di atas angka terendah dalam setengah abad.

“Dia masih sangat khawatir dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi karena hal ini berarti kita memerlukan suku bunga yang lebih tinggi untuk membatasi,” kata Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, dikutip AP pada Sabtu (26/8).

Dalam pidatonya, Powell tidak menyebutkan kemungkinan The Fed pada akhirnya akan menurunkan suku bunganya. Awal tahun ini, banyak orang di Wall Street memperkirakan penurunan suku bunga pada awal tahun depan. Saat ini, sebagian besar pedagang memperkirakan tidak ada penurunan suku bunga paling cepat sebelum pertengahan 2024.

Powell mengatakan para pengambil kebijakan bank sentral yakin suku bunga acuan mereka cukup tinggi untuk menahan perekonomian dan memperlambat pertumbuhan, lapangan kerja, dan inflasi.

Namun ia mengakui sulit untuk mengetahui seberapa tinggi biaya pinjaman yang harus dikeluarkan untuk memperlambat perekonomian, “sehingga selalu ada ketidakpastian” mengenai seberapa efektif kebijakan The Fed dalam mengurangi inflasi.

“(Pejabat The Fed) akan melanjutkan dengan hati-hati saat kami memutuskan apakah akan melakukan pengetatan lebih lanjut atau, sebaliknya, mempertahankan tingkat kebijakan tetap konstan dan menunggu data lebih lanjut," katanya.

Sejak Powell berbicara pada konferensi Jackson Hole musim panas lalu, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 22 tahun sebesar 5,4%. Dari puncaknya sebesar 9,1% pada Juni 2022, inflasi telah melambat menjadi 3,2%, meski masih di atas target The Fed sebesar 2%.

Powell mengakui penurunan inflasi, yang ia sebut sebagai “berita yang sangat baik.” Harga konsumen, tidak termasuk kategori pangan dan energi yang fluktuatif, sudah mulai melemah.

“Tetapi data yang baik selama dua bulan hanyalah permulaan dari apa yang diperlukan untuk membangun keyakinan bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju tujuan kita,” sambungnya.

Pada Juni, ketika 18 pengambil kebijakan The Fed terakhir kali mengeluarkan proyeksi triwulanannya, mereka memperkirakan akan menaikkan suku bunga sekali lagi pada tahun ini.

Ekspektasi tersebut mungkin berubah, mengingat angka inflasi yang lebih rendah yang dikeluarkan pemerintah dalam beberapa minggu terakhir. Para pejabat akan memperbarui proyeksi suku bunga mereka pada pertemuan berikutnya pada 19-20 September.

Beberapa pejabat Fed, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan pejabat tinggi di komite penetapan suku bunga telah menyatakan bank sentral mungkin mendekati akhir dari kenaikan suku bunganya.

Banyak ekonom telah menunda atau membalikkan perkiraan mereka sebelumnya mengenai resesi di AS. Optimisme bahwa The Fed akan melakukan “soft landing” yang sulit telah meningkat, yaitu dengan berhasil menurunkan inflasi ke tingkat targetnya tanpa menyebabkan resesi yang tajam.

Banyak trader di pasar keuangan tidak hanya membayangkan soft landing, tetapi juga percepatan pertumbuhan.

Ekspektasi tersebut telah membantu mendorong lonjakan imbal hasil obligasi, terutama obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun, yang sangat mempengaruhi tingkat suku bunga hipotek jangka panjang.

Oleh karena itu, rata-rata suku bunga tetap hipotek 30 tahun telah mencapai 7,23%, level tertinggi dalam 22 tahun. Suku bunga pinjaman mobil dan kartu kredit juga melonjak lebih tinggi dan dapat melemahkan pinjaman dan belanja konsumen, yang merupakan sumber kehidupan perekonomian.

Emily Roland, salah satu kepala strategi investasi di John Hancock Investment Management, termasuk di antara analis yang masih ragu bahwa The Fed akan mencapai soft landing.

“Dampak keterlambatan dari semua pengetatan yang telah dilakukan The Fed, jumlah terbesar yang pernah kita lihat dalam beberapa decade, kemungkinan besar akan berdampak buruk pada perekonomian dan membawa perekonomian ke dalam resesi. Hanya perlu beberapa saat untuk sampai ke sana," jelasnya.

Demikian pula kepala makro AS di BNY Mellon Investment Management Sonia Meskin khawatir pasar keuangan meremehkan peluang terjadinya pendaratan yang lebih sulit dan tertunda.

“Sebagian besar pengetatan mungkin masih akan dilakukan,” kata Meskin, dan dampak penuh dari kenaikan suku bunga mungkin baru akan terjadi pada tahun depan.

Beberapa ekonom berpendapat suku bunga jangka panjang yang lebih tinggi di pasar obligasi mungkin mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut karena dengan memperlambat pertumbuhan, suku bunga jangka panjang tersebut akan membantu mendinginkan tekanan inflasi.

Benar saja, banyak ekonom berpendapat bahwa kenaikan suku bunga The Fed pada Juli akan menjadi yang terakhir.

Bahkan jika The Fed tidak memberlakukan kenaikan suku bunga lebih lanjut, mereka mungkin masih merasa terdorong untuk mempertahankan kenaikan suku bunga acuannya di masa depan untuk mencoba mengendalikan inflasi.

Hal ini akan menimbulkan ancaman baru. Mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi tanpa batas waktu akan berisiko melemahkan perekonomian dan memicu penurunan perekonomian.

Situasi seperti ini juga dapat membahayakan banyak bank karena berkurangnya nilai obligasi yang mereka miliki, sebuah dinamika yang turut menyebabkan runtuhnya Silicon Valley Bank dan dua pemberi pinjaman besar lainnya pada musim semi lalu.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia