Saham BYD Melonjak Laba Semester I-2023 Naik 200%
NEW YORK, investor.id – Saham produsen mobil Tiongkok BYD yang terdaftar di Tiongkok melonjak lebih dari 5% pada Selasa (29/8), sehari setelah membukukan lonjakan laba semester I-2023 yang naik melampaui 200%.
Berkat rekor pengiriman, produsen mobil listrik atau electric vehicle (EV) Tiongkok tersebut membukukan lonjakan laba bersih sebesar 204,68% untuk semester pertama tahun ini. Laba bersih perusahaan mencapai 10,95 miliar yuan (US$ 1,50 miliar) pada periode Januari hingga Juni 2023, dibandingkan dengan 3,59 miliar yuan setahun sebelumnya.
Saham produsen mobil yang terdaftar di Hong Kong naik 5,6%, sementara saham di Shenzhen naik sebanyak 4,75% pada perdagangan Selasa. Angka yang kuat ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan pesat dalam bisnis kendaraan energi baru, kata perusahaan itu dalam pencatatan saham.
Pendapatan dalam enam bulan pertama meningkat 72,72% dibandingkan semester I-2022, menurut keterbukaan informasi seperti dikutip CNBC internasional pada Selasa (29/8).
“Jika Anda melihat angka BYD, jelas pertumbuhan pendapatan sangat kuat. Namun kami bahkan lebih terkesan dengan marginnya. Margin kotor BYD pada semester pertama adalah 18%. Itu adalah (angka yang sama dengan) margin kotor Tesla,” menurut Jiong Shao, analis teknologi Tiongkok di Barclays.
Merek mobil terlaris di Tiongkok membukukan hasil penjualan kuartalan terbaiknya. Penjualan kendaraan energi baru penumpang pada kuartal II-2023 berjumlah 700,244 unit, naik sekitar 98% dari tahun ke tahun (YoY), menurut data perusahaan.
Sebagai perbandingan, saingannya dari Amerika Serikat (AS) Tesla melaporkan pengiriman 466.140 unit kendaraan secara global untuk kuartal II-2023.
Tiongkok adalah pasar mobil terbesar di dunia berdasarkan penjualan dan produksi. Ini juga merupakan pasar kendaraan listrik terbesar di dunia dan merupakan pendorong utama dalam dorongan menuju mobil listrik.
“BYD menargetkan pasar massal yang tidak dapat dijangkau oleh Tesla,” kata associate partner di Frost & Sullivan Vivek Vaidya.
“Anda akan melihat kendaraan buatan Tiongkok yang menawarkan keunggulan harga signifikan dibandingkan Tesla (dengan) fitur serupa, mobil berpenampilan memukau,” kata Vaidya.
Perang Harga
BYD berada di bawah tekanan persaingan harga antara rival domestik dan Tesla.
Tesla, produsen kendaraan listrik milik Elon Musk, memangkas harga Model S dan Model X pada Agustus karena perusahaan tersebut berupaya mendapatkan pangsa pasar di tengah meningkatnya persaingan di Tiongkok. Pemotongan tambahan terjadi pada bulan yang sama ketika Tesla menurunkan harga Model Y dan Model 3.
Awal tahun ini, BYD dan rival domestiknya seperti Nio dan Xpeng juga memangkas harga.
“Harga yang lebih rendah untuk menekan pemain yang lebih lemah benar-benar merupakan hal yang baik bagi kesehatan industri,” kata Shao dari Barclays.
“Margin operasi BYD adalah 5% yang merupakan margin operasi yang cukup sehat dan banyak pemain di pasar kendaraan listrik Tiongkok bahkan memiliki margin kotor negatif, apalagi margin operasi,” sambungnya.
Pemotongan harga terjadi karena konsumen tetap berhati-hati dalam berbelanja di tengah pemulihan ekonomi Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan, setelah pembatasan ketat terkait pandemi Covid-19 dicabut.
Vaidya dari Frost & Sullivan mengatakan merek-merek tersebut menurunkan harga agar sebanyak mungkin produk mereka bisa masuk ke pasar.
“EV sedikit berbeda dengan kendaraan bermesin pembakaran internal. Kendaraan listrik juga menghasilkan uang bagi (original equipment manufacturer) OEM yang menjualnya,” kata Vaidya, merujuk pada produsen peralatan asli seperti Tesla.
“Ketika mereka berlari, misalnya, Tesla memiliki titik pengisian daya dan oleh karena itu setiap mil yang ditempuh Tesla, Tesla mendapatkan sejumlah uang kembali. Jadi diskon atau perang harga yang terjadi adalah agar produknya bisa beredar di pasaran,” kata Vaidya.
“Setelah itu, ia akan mulai menghasilkan uang,” tuturnya.
Lanskap Kompetitif
BYD juga memperluas bisnisnya di luar bidang otomotif. Pada Senin (28/8), BYD mengumumkan unit bisnis elektroniknya mengakuisisi bisnis manufaktur elektronik seluler Jabil yang berbasis di AS di Tiongkok dengan nilai sekitar US$ 2,2 miliar.
BYD Electronics memproduksi berbagai produk termasuk ponsel pintar, PC tablet, kendaraan energi baru, robot, dan peralatan komunikasi.
Saingan domestik Xpeng pada Senin mengatakan pihaknya membeli bisnis pengembangan mobil listrik pintar (smart electric car) Didi dengan pertukaran saham senilai US$ 744 juta. Xpeng mengatakan pihaknya berencana mengembangkan mobil listrik untuk diluncurkan tahun depan dengan merek pasar massal baru.
Xpeng juga bersama-sama mengembangkan dua kendaraan listrik baru dengan Volkswagen (VW) yang akan menggabungkan perangkat lunak (software) bantuan pengemudi canggih Xpeng untuk pasar Tiongkok dengan target peluncuran pada 2026.
Volkswagen pada Juli mengatakan akan menginvestasikan US$ 700 juta ke Xpeng dan mengambil 4,99% saham di perusahaan tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






