Jumat, 15 Mei 2026

ADB Buka Peluang Pendanaan US$ 100 Miliar untuk Atasi Krisis di Asia Pasifik

Penulis : Arnoldus Kristianus
29 Sep 2023 | 16:29 WIB
BAGIKAN
Kantor Pusat Asian Development Bank (ADB) di Filipina. (Foto: ANTARA/REUTERS/Cheryl Ravelo/aa)
Kantor Pusat Asian Development Bank (ADB) di Filipina. (Foto: ANTARA/REUTERS/Cheryl Ravelo/aa)

Upaya mobilisasi modal swasta akan memainkan peran penting dalam meningkatkan investasi miliaran hingga triliunan dolar AS, dengan memperluas keterlibatan sektor swasta dalam agenda pembangunan. Upaya-upaya di tingkat hulu akan membantu meningkatkan kebijakan makroekonomi dan lingkungan kelembagaan serta lingkungan yang mendukung untuk investasi sektor swasta, memacu peningkatan investasi domestik dan asing.

Dukungan penasihat di tingkat menengah akan membantu menciptakan jalur proyek dan mempersiapkan proyek-proyek yang dapat dibiayai bank yang dapat menarik investasi sektor swasta.

Pembiayaan hilir akan disusun untuk mengumpulkan modal swasta dalam proyek-proyek pembangunan, termasuk menghilangkan risiko bagi sektor swasta. Pemberdayaan hulu, serta mobilisasi di tingkat menengah dan hilir, akan meningkatkan neraca keuangan ADB, sehingga melipatgandakan sumber daya yang tersedia untuk pembangunan kawasan ini.

ADVERTISEMENT

Perekonomian juga harus memobilisasi lebih banyak pendapatan pajak, memodernisasi otoritas pajak melalui digitalisasi, dan bekerja sama untuk memastikan sistem pajak internasional yang adil dan berfungsi dengan baik. Mobilisasi sumber daya domestik sangat penting dalam upaya mengatasi keberlanjutan utang dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

ADB membentuk Asia Pacific Tax Hub pada 2021 untuk menyediakan platform yang terbuka dan inklusif bagi dialog kebijakan strategis, berbagi pengetahuan, dan koordinasi pembangunan di antara ADB, anggotanya, dan mitra pembangunan.

Masyarakat miskin dan rentan di Asia dan Pasifik sangat rentan terpapar oleh krisis yang meningkat dan saling terkait yang membahayakan kesehatan, hasil pendidikan, dan mata pencaharian mereka. Diperkirakan 155 juta orang, atau 3,9% dari populasi kawasan ini, hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2022 dan banyak di antaranya, terutama perempuan, menghadapi krisis biaya hidup yang membuat makanan dan komoditas serta layanan penting lainnya menjadi tidak terjangkau.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 24 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 28 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia