Jumat, 15 Mei 2026

Obligasi Global Terlihat Berbahaya Bagi Pasar Saham AS

Penulis : Grace El Dora
30 Okt 2023 | 08:49 WIB
BAGIKAN
Segel perunggu untuk Departemen Keuangan diperlihatkan di Departemen Keuangan AS di Washington, Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari 2023. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Segel perunggu untuk Departemen Keuangan diperlihatkan di Departemen Keuangan AS di Washington, Amerika Serikat (AS) pada 20 Januari 2023. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

NEW YORK, investor.id – Penurunan obligasi Amerika Serikat (AS) yang semakin intensif menambah tekanan pada perekonomian global dan menciptakan prospek ekuitas yang dinilai “sangat berbahaya”, kata kepala investasi manajer hedge fund Livermore Partners.

Era baru suku bunga yang lebih tinggi telah menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak, menghambat pengembalian bagi investor dan membalikkan status quo selama satu setengah dekade terakhir, kata David Neuhauser pada pada Jumat (27/10) kepada CNBC internasional. Imbal hasil obligasi bergerak berbanding terbalik dengan harga.

“Saya pikir kondisi ini sangat berbahaya pada saat ini,” katanya, ketika ditanya betapa mengkhawatirkannya kondisi tersebut terhadap ekuitas.

ADVERTISEMENT

“Kita berada di dunia yang penuh risiko di mana, selama hampir 15 tahun, Anda memiliki pasar obligasi yang berada dalam kondisi pasar bullish, dan Anda memiliki suku bunga negatif selama beberapa tahun,” tambah Neuhauser.

Dinamika Global

Dinamika ini mempengaruhi perekonomian global, ketika harga rumah terjangkau, harga mobil terjangkau, dan masyarakat dihadapkan pada lingkungan dan gaya hidup yang memiliki tingkat suku bunga yang jauh lebih rendah.

Kondisi tersebut telah berubah karena bank sentral AS terus mendorong kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang lebih tinggi. Hal ini, pada gilirannya, telah mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi dan melemahkan anggaran pemerintah dengan meningkatkan biaya pinjaman.

Di pasar Treasury AS, yang merupakan komponen penting dari sistem keuangan global, imbal hasil obligasi telah melonjak ke tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak awal krisis keuangan global.

Di Jerman, negara dengan perekonomian terbesar di Eropa, imbal hasil telah mencapai level tertinggi sejak krisis utang zona euro pada 2011. Di Jepang, di mana suku bunga masih di bawah 0%, imbal hasil telah meningkat ke level tertinggi pada 2013.

“Saya pikir hal ini akan menimbulkan banyak kesulitan dalam perekonomian,” kata Neuhauser.

Obligasi ‘Kembali dari Kematian’

Ketidakseimbangan fiskal tersebut memberikan “banyak amunisi bagi penurunan obligasi”, tambah manajer dana lindung nilai tersebut, dengan suku bunga kemungkinan akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Apa yang Anda lihat sekarang di pasar obligasi adalah, para pecinta obligasi kembali populer, kembali dari tahun ‘80-an, kembali dari kematian, dan saya pikir mereka memimpin pasar saat ini,” jelasnya.

Pernyataan Neuhauser menggemakan komentar serupa awal pekan ini dari kepala kedaulatan dan mata uang global UBS Asset Management, Kevin Zhao. “Penjaga obligasi akan kembali,” kata dia.

Bank sentral sangat menekankan suku bunga kemungkinan tidak akan turun dalam waktu dekat. Bank Sentral Eropa (ECB) menegaskan kembali poin tersebut pada Kamis (26/10), mempertahankan suku bunga stabil pada rekor tertinggi 4%. Sementara The Federal Reserve (The Fed) AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 5,25%-5,50% pada minggu depan.

Neuhauser mengatakan tarif yang lebih tinggi ini akan sangat membebani konsumen dan korporasi.

“Saya pikir hal ini akan menimbulkan banyak tekanan pada pasar kredit, akan menimbulkan banyak tekanan pada konsumen di masa depan,” sebutnya.

Perusahaan juga akan mendapat tekanan dari tingginya utang dan biaya refinancing, kata Neuhauser.

“Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan tren penurunan perekonomian dan juga akan merugikan pasar saham dan Anda mulai melihatnya hari ini,” tambahnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 18 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia