Bangsal Rumah Sakit Dipenuhi Anak-anak Gaza yang Kelaparan
Ibunda Fadi, Zant mengungkapkan bahwa sebelum perang makanan favorit Fadi adalah shawarma ayam – sebuah hidangan panggang khas Levantine. Fadi juga makan banyak buah dan minum susu.
Tetapi saat perang meletus, tambah Zant, keluarga Fadi melarikan diri dari rumah mereka di distrik al-Nasr, Gaza City yang mengalami kerusakan parah akibat pemboman. Mereka juga sudah mengungsi empat kali sebelum tiba di Beit Lahia.
Perang ini turut berdampak pada ketidaktersediaan Creon, obat yang dibutuhkan oleh penderita cystic fibrosis untuk menambah enzim pankreas guna membantu mencerna makanan. Akibatnya, Fadi terkadang mengalami diare 10 kali dalam satu malam.
“Sebelum perang, berat badan anak ini mencapai 30kg. Sekarang beratnya hanya 12kg (26 lb), kata ibunya.
COGAT sendiri tidak menanggapi pertanyaan tentang ketersediaan Creon, tetapi mengatakan bahwa Israel tidak menolak satu pun pengiriman pasokan medis.
Di sisi lain, Reuters tidak dapat secara independen memastikan apakah ada pengiriman yang diblokir, atau memverifikasi dengan pejabat rumah sakit sejauh mana pasokan Creon terganggu.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan kurangnya obat berkontribusi pada memburuknya kondisi anak-anak yang meninggal.
Selain anak-anak seperti Fadi yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, risiko juga meningkat dengan cepat bagi banyak anak lainnya di Gaza, kata badan-badan PBB.
Badan PBB untuk anak-anak, Unicef menyampaokan pada Jumat (15/03/2024) bahwa hampir 1 dari 3 anak di bawah usia dua tahun di Gaza utara menderita malnutrisi akut, dua kali lebih banyak dari Januari.
Di tempat penampungan dan pusat kesehatan yang dikunjungi oleh Unicef dan mitranya, 4,5% anak-anak mengalami kekurangan gizi parah. Yag mana ini adalah bentuk malnutrisi paling mengancam jiwa.
“Kecuali jika pertempuran berhenti dan badan-badan bantuan memiliki akses penuh ke seluruh Gaza, maka ratusan atau bahkan ribuan anak lagi dapat meninggal karena kelaparan,” ujar Direktur Eksekutif Unicef, Catherine Russell dalam pernyataan bersama dengan Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP), Selasa.
Jika Israel melanjutkan serangan yang dijanjikan di Rafah maka 1,1 juta orang di Gaza, separuh dari jumlah penduduknya, diperkirakan menghadapi kekurangan makanan ekstrem. Di mana kelaparan dan kematian akan terjadi di dalam rumah tangga. Demikian laporan IPC.
Pada Kamis (14/03/2024), Kolonel Elad Goren dari COGAT mengatakan kepada awak media bahwa akses terhadap makanan stabil di bagian selatan dan tengah daerah kantong tersebut.
Sebelumnya pada akhir Februari 2024, Human Rights Watch telah membuka tabir baru bahwa Israel menghalangi penyediaan layanan dasar serta masuknya dan pendistribusian bahan bakar dan bantuan untuk menyelamatkan nyawa di Gaza. Dikatakan juga, hal tersebut merupakan "hukuman kolektif," yang dianggap sebagai kejahatan perang di bawah hukum kemanusiaan internasional.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

