Perang Dagang AS-China Kembali Berulang
JAKARTA, investor.id - Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza C Suryanata memprediksi perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali berulang. Hal ini sebagai buntut dari kenaikan tarif impor AS kepada China.
Liza menilai, trade war ini akan erat kaitannya dengan harga barang-barang komoditas tambang. Dimana pasar juga tengah menunggu paket-paket stimulus lebih jauh dari Negeri Tirai Bambu tersebut untuk menggairahkan ekonominya.
“So far, sudah ada picking up di harga tembaga. Tapi harga crude oil masih belum (naik) juga karena traders itu masih mempertimbangkan kalau suku bunga AS enggak turun-turun maka akan memperlambat pemulihan ekonomi global and eventually juga mengurangi demand atas energi,” beber Liza dalam Investor Market Opening, Kamis (28/5/2024).
Menurut Liza, selama sebulan terakhir komoditas tembaga naik 0,3% atau rebound setelah keruntuhan di titik tertinggi pekan lalu. Fokus para traders teranyar ada pada apakah pasar fisik tembaga memang seketat yang diprediksi. Kemudian apakah supply akan tetap stabil dalam beberapa bulan mendatang.
Oleh sebab itu, Liza mengatakan dampak trade war ini pada ekonomi global ada, karena kedua negara itu memegang peranan penting dalam perdagangan global. Pasalnya, keduanya adalah sama-sama konsumen dan salah satunya merupakan eksportir terbesar di dunia. Di satu sisi ekonomi China masih agak lesu atau bisa dikatakan belum bergerak selincah yang diharapkan pasca pandemi Covid-19 tiga tahun lalu.
“Saya percaya di belakang trade war ini ada kepentingan politik, juga pastinya AS dan China ini menurut kita pribadi Indonesia juga merupakan pasar utama. So, ketika ekonomi mereka saat ini belum bergerak selincah yang diharapkan setelah mereka bebas dari lockdown covid tiga tahun sampai saat ini, China saya bilang itu istilahnya sepertinya masih gagal untuk jadi booster perekonomian global,” tandasnya.
Untuk diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menaikkan tarif barang-barang impor China pada Selasa (14/5/2024). Tarif baru yang ketat kepada impor China ini digadang-gadang pemerintah AS untuk melindungi industri AS dari persaingan tidak sehat. Imbasnya, dapat berimpact negatif terhadap perekonomian RI lantaran menyulut perang dagang antara AS dan China.
Kenaikan tarif tersebut tentu membuat China tidak tinggal diam, karena bisa jadi China akan mencari cara untuk membalasnya. Perang dagang China dan AS pernah terjadi pada 2018 lalu dan sempat membuat ekonomi dunia melemah serta memicu uncertainty di pasar saham global.
Dengan demikian, tingkat inflasi global sulit melandai dan mempertajam narasi higher for longer rates. Tingkat suku bunga yang tinggi dalam waktu lebih lama akan berpotensi menarik modal asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri (capital outflow). Khususnya di negara-negara berkembang (emerging market), seperti Indonesia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





