Jelang Pemilu AS, Pasar Khawatirkan Obligasi dan Inflasi
WASHINGTON, investor.id – Potensi Donald Trump untuk menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) berkontribusi pada sentimen di pasar keuangan. Kebijakan kandidat itu dapat memicu pertumbuhan ekonomi, sekaligus inflasi.
Jika Donald Trump mengalahkan Kamala Harris, beberapa orang melihat skenario di mana defisit fiskal meningkat, bersamaan dengan potensi perang dagang global. Ini bisa berarti inflasi akan lebih tinggi dan imbal hasil (yield) obligasi melonjak, bersama dengan keuntungan di pasar saham.
Yield dan harga obligasi bergerak ke arah yang berlawanan, sehingga akan berdampak buruk pada nilai pendapatan tetap yang mendasarinya. Bergantung pada tren yang ada, bahkan ada pembicaraan tentang kembalinya "para vigilante obligasi", yaitu para trader yang pada dasarnya memaksa pemerintah dengan menghindari utang pemerintah atau menjualnya secara langsung.
Investor Ed Yardeni menciptakan istilah tersebut pada 1980-an dan memperingatkan bahwa para vigilante dapat kembali. Secara khusus, ia memperingatkan tentang para trader yang mengambil imbal hasil obligasi pemerintah AS alias US Treasury tenor 10 tahun, patokan pasar obligasi, di atas 5% yaitu level yang belum pernah terlihat sejak pertengahan 2007.
"Kami (belum) menyerukan agar imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai 5%, tetapi para Vigilante Obligasi tampaknya mengancam untuk membawanya ke sana," tulis Yardeni dalam komentarnya pada Senin (4/11/2024).
Bagaimana Pasar Obligasi?
Pada pasar obligasi, ada banyak alasan mengapa pasar ini berada dalam keadaan kacau sejak pertengahan September 2024. Salah satunya adalah pertimbangan politik tentang masa jabatan Trump yang kedua.
Pasar akan mempertimbangkan The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan jangka pendeknya hingga setengah poin persentase 50 basis poin (bps) pada 18 September 2024.
Meskipun hal itu biasanya dapat memicu struktur imbal hasil lainnya untuk bergerak lebih rendah, hal itu malah memicu ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Di beberapa kalangan, kekhawatiran atas inflasi dipicu oleh kebijakan moneter yang lebih longgar.
Tahun fiskal 2024 baru saja berakhir dengan pemerintah menjalankan defisit anggaran lebih dari US$ 1,8 triliun, termasuk lebih dari US$ 1,1 triliun yang didedikasikan hanya untuk membayar biaya pembiayaan atas utang AS senilai US$ 36 triliun.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






