Data Terbaru Buktikan Ekonomi China Alami Perlambatan Tajam
NEW YORK, investor.id – Penjualan ritel China naik sebesar 3% pada November 2024 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data Biro Statistik Nasional yang dirilis Senin (16/12/2024). Namun data terbaru ini tidak memenuhi perkiraan sebesar 4,6% dalam jajak pendapat Reuters, membuktikan ekonomi China mengalami perlambatan tajam.
Perlambatan tajam itu dibandingkan dengan pertumbuhan 4,8% pada bulan sebelumnya, mengutip laporan CNBC internasional, Senin.
Penjualan ritel China pada Oktober 2024 telah mencatat pertumbuhan tercepat sejak Februari tahun ini, dibantu oleh festival belanja Singles’ Day tahunan yang dimulai seminggu lebih awal dari acara tersebut pada 2023.
Produksi industri pada November 2024 naik sebesar 5,4% dari tahun lalu, di atas ekspektasi pertumbuhan 5,3% di antara para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Angka ini juga dibandingkan dengan kenaikan sebesar 5,3% pada bulan sebelumnya.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini telah berjuang menghadapi tekanan dari berbagai sisi pada 2024. Kepercayaan konsumen dan bisnis telah terpukul oleh penurunan properti yang berkepanjangan, risiko utang pemerintah daerah, dan pengangguran yang tinggi.
Pemulihan Tersendat
Pkan lalu, pada pertemuan kebijakan ekonomi tingkat tinggi, para pemimpin China mengisyaratkan urgensi yang meningkat untuk menopang ekonomi yang sedang terpuruk. Pihaknya mengalihkan fokus kebijakan negara untuk meningkatkan konsumsi karena pemerintah China bersiap menghadapi potensi eskalasi ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).
Para pejabat tinggi berjanji untuk menerapkan alat fiskal proaktif dan kebijakan moneter yang cukup longgar tahun depan, katanya. Ini diharapkan untuk secara kuat meningkatkan konsumsi domestik dan merangsang permintaan di semua lini, seperti dikutip Kantor Berita Xinhua yang dikelola pemerintah.
Itu menandai pertama kalinya pemerintah China mengakui kebijakan moneternya harus longgar sejak kedalaman krisis keuangan global pada 2008.
Sejak akhir September 2024, otoritas China telah meningkatkan pengumuman stimulus dalam upaya untuk menopang ekonomi yang goyah, termasuk beberapa pemotongan suku bunga dan pelonggaran aturan pembelian properti.
Di bidang fiskal, Kementerian Keuangan meluncurkan program lima tahun senilai 10 triliun yuan (US$ 1,4 triliun) pada November 2024 untuk mengatasi masalah utang pemerintah daerah.
Namun, data ekonomi terbaru dari China telah menggarisbawahi tekanan deflasi yang terus berlanjut dalam ekonomi yang sedang lesu.
Baca Juga:
Rebut Investasi ChinaInflasi konsumen turun ke level terendah dalam lima bulan pada November 2024, dengan harga eceran naik 0,2% dari tahun lalu. Indeks harga produsen China melanjutkan tren penurunan, turun selama 26 bulan berturut-turut.
Impor negara itu turun 3,9% di tengah permintaan konsumen yang lesu, menandai penurunan paling tajam sejak September 2023, sementara ekspor naik lebih kecil dari yang diharapkan sebesar 6,7%.
Di luar program tukar tambah untuk memberi insentif penjualan mobil dan peralatan rumah tangga, langkah-langkah stimulus China yang telah diumumkan sejauh ini belum menargetkan konsumsi secara langsung.
Sementara pertemuan perencanaan ekonomi minggu lalu memberikan gambaran umum tentang fokus dan arah kebijakan untuk tahun depan, hal-hal yang lebih spesifik dan terperinci baru akan diungkapkan pada sesi legislatif tahunan pada Maret 2025.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






