NATO Memuji Trump yang Ancam Rusia dengan Sanksi
DAVOS, investor.id – Sekretaris Jenderal aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte memuji Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pasalnya, Trump yang baru dilantik mengatakan Rusia dapat menghadapi lebih banyak tarif dan sanksi jika tidak mengakhiri perang di Ukraina.
"Saya sangat, sangat senang dengan posisi Trump untuk memberikan lebih banyak sanksi kepada Rusia. Kami tahu ekonomi Rusia sedang sangat buruk, dan sanksi akan membantu," ucap Rutte seperti dikutip CNBC internasional di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss pada Kamis (23/1/2025).
Ia berharap Eropa juga akan "meningkatkan" sanksi dalam upaya "mencekik ekonomi Rusia" dan mengurangi pundi-pundi perang negara Beruang Merah.
"Trump benar, Ukraina lebih dekat ke Eropa, tetapi Trump juga benar ini adalah konflik geopolitik jadi saya yakin AS ingin mengakhirinya dengan kesepakatan yang baik dan kuat," imbuh Rutte.
Pada Rabu (22/1/2025) Trump memberikan peringatan keras, jika tidak ada kesepakatan yang dicapai untuk segera mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
“(Amerika) tidak punya pilihan lain selain mengenakan Pajak, Tarif, dan Sanksi tingkat tinggi pada apa pun yang dijual oleh Rusia ke Amerika Serikat, dan berbagai negara peserta lainnya. Mari kita selesaikan perang ini, yang tidak akan pernah dimulai jika saya menjadi Presiden! Kita bisa melakukannya dengan cara mudah, atau cara yang sulit, dan cara mudah selalu lebih baik," unggah Trump di platform media sosialnya Truth Social.
Sebelumnya Trump membanggakan dirinya dapat mengakhiri perang di Ukraina "dalam waktu 24 jam" setelah terpilih, serta mengancam akan memangkas dana militer untuk Ukraina. Kekhawatiran meningkat di Eropa bahwa Ukraina yang kekurangan dana dan persenjataan dapat didorong ke dalam kesepakatan damai yang buruk, sehingga melibatkan konsesi teritorial ke Rusia.
Adapun Februari 2025 akan menandai ulang tahun ketiga serangan Rusia ke Ukraina.
Sementara kelelahan perang telah meningkat di antara beberapa sekutu, perang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir dengan Rusia yang ingin memperoleh keuntungan. Ukraina pun mencegah kerugian teritorial lebih lanjut, menjelang kemungkinan perundingan damai.
Ketika ditanya tentang penilaiannya saat ini tentang perang antara Ukraina dan Rusia, kepala NATO Rutte menyampaikan komentarnya.
"Saat ini, perang tidak bergerak ke arah yang benar. Saat ini, (perang) tidak bergerak ke arah yang benar, (garis depan) seharusnya bergerak ke timur dan bergerak ke barat ... Kita harus mengubahnya, kita harus mengubah lintasan perang," tuturnya.
Hubungan Trump dengan aliansi militer Barat tampak sengit selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Pemimpin Republik itu kerap mengecam negara-negara anggota NATO, khususnya negara-negara di Eropa. Trump menilai anggota aliansi itu tidak mematuhi target yang disepakati pada 2014 untuk membelanjakan setidaknya 2% dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan setiap tahun.
Menjelang masa jabatan keduanya, Trump mengisyaratkan perdebatan sengit mengenai pengeluaran militer. Trump berpandangan anggota NATO terlalu bergantung pada AS untuk keamanan mereka sendiri.
Pandangan seperti ini akan kembali menjadi agendanya. Ia mengatakan, pada Januari 2025 sebanyak 32 negara anggota NATO harus membelanjakan lebih banyak lagi untuk pertahanan.
"Saya pikir NATO harus memiliki 5% (sebagai target). Mereka semua mampu melakukannya, tetapi mereka harus berada di angka 5%, bukan 2%," ucapnya. Pada konferensi pers yang sama, Trupmp menolak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut Terusan Panama atau Greenland, wilayah Denmark yang juga anggota NATO.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






