Jumat, 15 Mei 2026

The Fed Memperkirakan Suku Bunga AS Akan Lebih Rendah di Akhir 2025

Penulis : Grace El Dora
7 Feb 2025 | 23:53 WIB
BAGIKAN
Presiden dan CEO Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari di New York, AS. (Foto: Evan Agostini/Invision/AP)
Presiden dan CEO Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari di New York, AS. (Foto: Evan Agostini/Invision/AP)

WASHINGTON, investor.id – Presiden The Federal Reserve (The Fed) Minneapolis Neel Kashkari mengatakan ia memperkirakan suku bunga Amerika Serikat (AS) akan turun tahun ini,jika data ekonomi terus bergerak ke arah yang sama. Pejabat bank sentral tersebut optimis inflasi Amerika akan terus turun ke target The Fed sebesar 2%, sementara lapor an penggajian nonpertanian pada Jumat (7/2/2025) menunjukkan pasar tenaga kerja terus terlihat kuat.

“Pada akhirnya, tugas kami adalah lapangan kerja maksimum dan harga yang stabil. Jika kami melihat data yang sangat bagus tentang inflasi sementara pasar tenaga kerja tetap kuat, maka saya pikir itu akan mendorong saya untuk mendukung pelonggaran lebih lanjut,” papar Kashkari seperti dikutip CNBC internasional, Jumat. Ia pun mengaku tidak tahu mengapa The Fed harus mempertahankan suku bunga seperti sebelumnya, jika sudah benar-benar melihat inflasi turun dengan cepat.

Adapun inflasi utama AS pada Desember 2024 berjalan pada tingkat tahunan 2,6% (YoY), menurut indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pilihan bank sentral AS tersebut. Tidak termasuk makanan dan energi, inflasi inti AS sedikit lebih tinggi yaitu 2,8%.

ADVERTISEMENT

Angka ini masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%, meskipun Kashkari mengatakan dirinya memperkirakan data terkait perumahan, khususnya sewa, akan mereda sepanjang tahun ini dan pada akhirnya akan membawa harga kembali ke target.

Kashkari tidak menjadi pemilih tahun ini di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga, tetapi akan memberikan suara pada 2026.

"Kami akan menurunkan inflasi menjadi 2%. Kami berkomitmen untuk itu," imbuhnya.

Namun, rekan-rekan Kashkari dalam beberapa hari terakhir telah menyatakan beberapa kekhawatiran atas apa yang dapat dilakukan kebijakan fiskal terhadap gambaran inflasi.

Presiden AS Donald Trump telah mendorong tarif agresif terhadap mitra dagang AS terbesar. Sementara itu, beberapa ekonom khawatir tarif tersebut dapat memicu kembali inflasi jika memicu perang dagang II.

"Kita harus melihat seperti apa ketidakpastian itu. Seperti apa jangkauan negosiasi yang sedang berlangsung? Tentu saja tarif itu sulit, karena bukan hanya apa yang kita lakukan di Amerika, tetapi juga bagaimana negara lain menanggapi dan sebagainya," katanya.

Pasar sebagian besar memperkirakan The Fed akan menahan diri setidaknya hingga Juni 2025. The Fed pada pertemuannya di akhir Januari 2025 memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil setelah pemangkasan penuh pada 2024.

“Saya dan rekan-rekan saya pada dasarnya mengatakan kita perlu menunggu dan melihat. Kami tidak tahu cukup informasi tentang apa yang akan diumumkan. Kabar baiknya adalah ... ekonomi dalam kondisi baik. Jadi, kita berada dalam kondisi yang sangat baik untuk sekadar duduk di sini hingga kita mendapatkan lebih banyak informasi tentang tarif, imigrasi, pajak, dll. Semua itu akan menjadi penting,” pungkasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia