Korsel Perketat Aturan Baterai Lihium ke Dalam Pesawat
SEOUL, investor.id – Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memperketat peraturan terkait membawa baterai lithium ke dalam pesawat. Langkah ini dipicu meningkatnya risiko penerbangan di seluruh dunia akibat baterai pada ponsel dan rokok elektrik, yang mengarah pada kegagalan fungsi dan menghasilkan asap, api, atau panas yang ekstrem.
Mulai Sabtu (01/03/2025), penumpang maskapai penerbangan Korea Selatan harus menyimpan power bank dan rokok elektrik di dalam tas mereka, bukan di tempat sampah kabin. Perangkat juga tidak boleh diisi daya di dalam pesawat, sementara batas jumlah dan kekuatan baterai akan diberlakukan.
Namun menurut Kementerian Transportasi, para penumpang masih diizinkan membawa hingga lima baterai portabel berdaya 100 watt/jam, sedangkan baterai dengan daya lebih dari 160 watt/jam tidak akan diperolehkan masuk ke dalam pesawat. Baterai juga harus disimpan di dalam kantong plastik transparan.
Para wisatawan Negeri Ginseng yang terbang dari Bandara Internasional Incheon pun merasa lega dengan peraturan baru tersebut.
“Saya merasa aman karena kami memiliki panduan baru yang dapat melindungi kami. Saya juga disarankan untuk membawa (baterai ini) saat berada di dalam pesawat, hal ini membuat saya merasa lega karena kami dapat segera mengetahui jika terjadi sesuatu,” ujar Kim Jae-woung (37 tahun) kepada Reuters.
Berdasarkan catatan Administrasi Penerbangan Federal AS (Federal Aviation Administration/FAA), tahun lalu ada tiga insiden global dalam dua minggu akibat baterai lithium yang terlalu panas di pesawat. Jumlah ini naik dibandingkan 2018 yang mencatat kurang dari satu insiden per minggu.
Industri maskapai penerbangan sendiri sejak lama menyadari bahwa penggunaan baterai terus bertambah telah menjadi masalah keselamatan, dan pengetatan peraturan secara berkala merupakan respons terhadap sejumlah kecelakaan.
Pihak berwenang Korea mengatakan, tindakan tersebut merupakan tanggapan atas kecemasan publik tentang insiden kebakaran pesawat Air Busan pada Januari 2025 ketika sedang menunggu untuk lepas landas.
Di sisi lain, para penyelidik belum menentukan penyebab kebakaran. Tetapi mengutip pernyataan investigasi awal pada Kamis (27/02/2025) bahwa kebakaran bermula dari tempat penyimpanan di kabin setelah boarding.
Seluruh 170 penumpang dan enam kru dievakuasi sebelum pesawat hancur. Kebakaran terdeteksi sekitar 20 menit, setelah penerbangan yang sempat tertunda itu dijadwalkan untuk berangkat.
“Prosedur pemadaman kebakaran awak kabin yang ada telah terbukti efektif untuk semua insiden (baterai lithium) yang terjadi dalam penerbangan. Namun, jika insiden semacam itu terjadi saat berada di darat, pilihan paling aman adalah mengevakuasi pesawat,” kata juru bicara Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA).
Awak kabin juga telah mendapat pelatihan untuk memadamkan api dengan alat pemadam, mendinginkan baterai dengan cairan, dan mengisolasi perangkat dalam kantong atau kotak penahan api.
Ratusan Ponsel
Sebagai informasi, baterai logam litium dan baterai lithium-ion adalah jenis baterai yang tidak dapat diisi ulang dan dapat diisi ulang yang ditemukan pada perangkat seperti laptop, ponsel, tablet, jam tangan, bank daya, dan rokok elektronik.
Penumpang dalam penerbangan penuh bisa jadi membawa ratusan ponsel di antara mereka.
Kesalahan atau kerusakan produksi, seperti ponsel yang terjepit di celah antara kursi pesawat atau terpapar suhu ekstrem, dapat menyebabkan ponsel mengalami korsleting dan cepat panas.
“Panas, asap, dan api dapat terjadi, dan bahkan dapat meledak dalam pelepasan gel yang sangat panas dan bagian-bagian perangkat yang bertindak sebagai pecahan peluru,” kata Flight Safety Foundation.
Standar penerbangan saat ini mengatakan bahwa power bank dan perangkat elektronik pribadi harus dibawa ke kabin, bukan ke bagasi, sehingga kerusakan apa pun dapat diatasi.
Laporan penelitian pada Desember 2024 oleh Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) menemukan bahwa "baterai litium yang tidak sesuai terus menerus terbawa dalam bagasi kabin”, dan perlu meningkatkan pemeriksaan bagasi kabin. Industri ini juga dikabarkan sedang menjajaki metode deteksi baru, termasuk penggunaan anjing pelacak.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






