Jumat, 15 Mei 2026

PM Trudeau Sebut Perang Dagang dengan AS Bisa Berlanjut di Masa Depan

Penulis : Grace El Dora
7 Mar 2025 | 15:15 WIB
BAGIKAN
Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau mengadakan konferensi pers di Canada House di London, Inggris pada Minggu (2/3/2025). (Foto: Sean Kilpatrick/ The Canadian Press via AP)
Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau mengadakan konferensi pers di Canada House di London, Inggris pada Minggu (2/3/2025). (Foto: Sean Kilpatrick/ The Canadian Press via AP)

TRENTON, investor.id – Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau menyebut perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) bisa berlanjut di masa mendatang, terlepas pembicaraan tentang gencatan tarif.

Dalam sebuah konferensi pers, PM Trudeau mengaku ia telah melakukan percakapan yang intensif" tetapi bermakna selama 50 menit pada Rabu (5/3/2025) dengan Presiden AS Donald Trump.

Trudeau mengatakan fokusnya sekarang adalah mengurangi dampak tarif yang secara tidak adil diterapkan oleh AS. Ia merujuk pada bantuan keuangan pemerintah Kanada kepada warganya yang terkena dampak negatif perang dagang.

ADVERTISEMENT

Trudeau mengalihkan pertanyaan ketika ditanya seberapa "panas" percakapan dengan Trump, lapor Anadolu pada Jumat (7/3/2025).

"Saya tidak akan membahasnya secara rinci," kata PM Kanada itu, Jumat. Trudeau mengatakan dirinya telah berurusan dengan Trump pertama kali saat terpilih pada 2016.

Mereka mencapai tujuan seperti negosiasi ulang perjanjian perdagangan dengan AS dan Meksiko yang menguntungkan ketiga negara, kata PM Trudeau, meskipun ada ketidakpastian tertentu di pihak Gedung Putih.

Trudeau mengindikasikan pemerintah Kanada tidak tertarik untuk menghapus tarif dari beberapa produk tetapi semua barang.

"Tujuan kami adalah menghapus semua tarif," tegasnya.

Tarif 25% yang diterapkan AS pada sebagian besar impor Kanada dan tarif balasan yang diterapkan pada semua barang AS oleh Trudeau berubah dengan cepat, dengan pendapat beragam dari para pejabat Trump.

Sementara itu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick bahwa Presiden Trump sedang mempertimbangkan untuk menghentikan sementara semua tarif pada barang-barang dari Meksiko dan Kanada hingga April 2025.

"Kemungkinan besar itu akan mencakup semua barang dan jasa yang mematuhi USMCA sehingga barang kebutuhan yang menjadi bagian dari kesepakatan Presiden Trump dengan Kanada dan Meksiko kemungkinan akan mendapatkan pengecualian dari tarif ini," jelas Lutnick, sebagaimana dilaporkan oleh Canadian Broadcasting Corporation.

Lutnick merujuk pada Perjanjian Kanada-AS-Meksiko, yang disebut CUSMA di Kanada. Penangguhan tersebut berlaku selama satu bulan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia