Jumat, 15 Mei 2026

China Geram, Taiwan Kecewa, Korsel Defensif Respons Tarif Trump

Penulis : Prisma Ardianto
3 Apr 2025 | 18:39 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Kevin Lamarque/ Reuters)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Kevin Lamarque/ Reuters)

TOKYO, investor.id – Pemerintah China menolak keras dan akan membalas secara tegas kebijakan tarif impor yang baru saja diumumkan Presiden AS Donald Trump. Sementara Korea Selatan (Korsel) memilih jalan negosiasi, sedangkan Taiwan kecewa mengingat kontribusinya ke perekonomian AS.

Pemerintah China pada Kamis (3/4/2025) seperti dikutip dari Antara yang merujuk Kyodo-OANA, berjanji akan Trump “mengambil tindakan balasan secara tegas” untuk melindungi hak dan kepentingannya. Kementerian Perdagangan China mendesak AS untuk segera membatalkan tarif sepihak tersebut dan menyelesaikan perbedaan perdagangan dengan mitra dagang AS melalui dialog yang setara.

China menghadapi tambahan tarif sebesar 34% atas kebijakan terbaru pemerintah AS, di luar bea masuk 20% yang telah diberlakukan sejak awal masa jabatan kedua Trump pada Januari.

ADVERTISEMENT

“Sejarah menunjukkan bahwa kenaikan tarif tidak dapat menyelesaikan masalah internal Amerika Serikat. Kebijakan ini justru merugikan kepentingan AS sendiri, membahayakan perkembangan ekonomi global, serta mengganggu stabilitas rantai pasokan dan industri,” ujar Kementerian Perdagangan China.

Menurut Pemerintah China, tidak ada pemenang dalam perang dagang, dan proteksionisme bukanlah solusi.

Sementara itu, Korea Selatan mencari jalur negosiasi dengan AS guna meminimalkan dampak dari kebijakan tarif tersebut. Pelaksana Tugas Presiden Korea Selatan, Han Duck Soo dalam pertemuan darurat terkait tarif AS yang baru menyatakan bahwa pemerintah Korsel harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi krisis perdagangan ini.

China Geram, Taiwan Kecewa, Korsel Defensif Respons Tarif Trump
Tarif Terbaru AS Sumber: WuBlockchain di Sosial media X

Ia menginstruksikan pejabat terkait untuk menyusun langkah-langkah darurat guna mendukung industri dan perusahaan yang terdampak. Produk asal Korsel akan dikenakan tarif tambahan sebesar 25% oleh AS.

Di sisi lain, Taiwan menghadapi tarif tambahan sebesar 32% dari AS. Pemerintah Taiwan menunjukkan kekecewaan atas kebijakan tersebut, dengan menyebut itu sama sekali tidak masuk akal dan sangat disesalkan, serta mempertanyakan metode perhitungan yang digunakan AS.

Pemerintah Taiwan menekankan bahwa penerapan tarif tambahan itu tidak mencerminkan hubungan perdagangan yang saling melengkapi antara Taiwan dan AS.

“Taiwan telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian AS, terutama dengan meningkatnya permintaan Amerika terhadap semikonduktor dan produk kecerdasan buatan (AI) dari Taiwan,” kata Dewan Eksekutif kabinet pemerintahan Taiwan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia