Jumat, 15 Mei 2026

Tarif Trump Acak-acak Wall Street dalam Dua Hari

Penulis : Grace El Dora
5 Apr 2025 | 21:56 WIB
BAGIKAN
Layar televisi menunjukkan keputusan suku bunga Federal Reserve saat Analis Meric Greenbaum bekerja di lantai Bursa Efek New York, Amerika Serikat pada 1 November 2023. (Foto: AP/ Richard Drew)
Layar televisi menunjukkan keputusan suku bunga Federal Reserve saat Analis Meric Greenbaum bekerja di lantai Bursa Efek New York, Amerika Serikat pada 1 November 2023. (Foto: AP/ Richard Drew)

WASHINGTON, investor.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) terpukul untuk hari kedua pada Jumat (4/4/2025), setelah pemerintah China membalas dengan tarif baru atas barang-barang AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran Presiden AS Donald Trump telah memicu perang dagang global yang akan menyebabkan resesi AS, karena tarif Trump mengacak-acak Wall Street.

Berikut ini adalah penghitungan kerusakan pasar saham, seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (5/4/2025).

Dow Jones Industrial Average turun 2.231,07 poin atau 5,5% dan bergerak ke level 38.314,86 pada perdagangan Jumat, penurunan terbesar sejak Juni 2020 selama pandemi Covid-19. Ini menyusul penurunan 1.679 poin pada hari Kamis dan menandai pertama kalinya saham tersebut turun lebih dari 1.500 poin dalam dua hari berturut-turut.

ADVERTISEMENT

S&P 500 anjlok 5,97% menjadi 5.074,08, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Indeks acuan anjlok 4,84% pada Kamis (3/4/2025) dan kini turun lebih dari 17% dari level tertingginya baru-baru ini.

Nasdaq Composite, yang menaungi banyak perusahaan teknologi yang menjual ke China dan juga memproduksi di sana, turun 5,8% menjadi 15.587,79. Ini menyusul penurunan hampir 6% pada hari Kamis dan membuat indeks turun 22% dari rekor Desember, pasar yang melemah dalam terminologi Wall Street.

Penjualan meluas dengan hanya 14 anggota S&P 500 yang naik pada hari itu. Indeks pasar utama ditutup pada level terendah mereka pada sesi tersebut.

Kementerian perdagangan China mengatakan pada hari Jumat bahwa negara itu akan mengenakan retribusi 34% pada semua produk AS, mengecewakan investor yang berharap negara-negara akan bernegosiasi dengan Trump sebelum membalas.

Saham teknologi memimpin penurunan pada perdagangan Jumat. Saham produsen iPhone Apple anjlok 7%, sehingga kerugiannya minggu ini menjadi 13%. Perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) Nvidia turun 7% selama sesi perdagangan Wall Street, sementara Tesla turun 10%.

Ketiga perusahaan tersebut memiliki eksposur besar ke China dan termasuk yang paling terpukul oleh tarif balasan pemerintah China. Di luar sektor teknologi, Boeing dan Caterpillar selaku eksportir besar ke China, memimpin penurunan Dow yang masing-masing turun 9% dan hampir 6%.

“Pasar saham sudah mati, dan dihancurkan oleh para ideolog dan luka yang ditimbulkan sendiri. Meskipun pasar mungkin mendekati titik terendah dalam jangka pendek, kami khawatir tentang dampak perang dagang global terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” tutur CEO dan mitra pendiri di Bowersock Capital Partners Emily Bowersock Hill, lapor CNBC internasional, Sabtu.

Upaya pemerintah China untuk menanggapi tarif Trump melampaui tarif timbal balik mereka sendiri. Otoritas negara tersebut menambahkan beberapa perusahaan ke dalam apa yang disebut daftar entitas tidak dapat diandalkan, yang menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut telah melanggar aturan pasar atau komitmen kontraktual.

Selain itu, pihak China membuka penyelidikan antimonopoli terhadap DuPont pada Jumat, yang menyebabkan sahamnya anjlok hampir 13%.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS alias US Treasury tenor 10 tahun turun kembali di bawah 4% pada Jumat, karena investor membanjiri obligasi untuk mencari keamanan sehingga mendorong harga naik dan suku bunga turun.

Indeks Volatilitas CBOE, pengukur ketakutan Wall Street melonjak di atas 40, level ekstrem yang hanya terlihat selama penurunan pasar yang cepat.

Trump tampak teguh dalam menghadapi reaksi pasar terhadap serangan tarifnya yang diumumkan pada Rabu 2/4/2025), dengan mengunggah di media sosialnya Truth Social bahwa kebijakannya tidak akan pernah berubah.

"Ketakutan sekarang saat kita memasuki akhir pekan [adalah] perang dagang meningkat, dan AS tidak mundur," ungkap kepala strategi global di Freedom Capital Markets Jay Woods. Secara keseluruhan, S&P 500 turun 9% dalam seminggu, minggu terburuk sejak merebaknya Covid-19 pada awal 2020.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia