Jumat, 15 Mei 2026

Miliarder Ray Dalio Khawatirkan Ekonomi AS Bisa Lebih Buruk dari Resesi

Penulis : Grace El Dora
14 Apr 2025 | 15:50 WIB
BAGIKAN
Kepala Bridgewater Associates Ray Dalio berpidato selama KTT Ekonomi yang diadakan untuk Forum Pembangunan China di Beijing, China pada 23 Maret 2019. (Foto: AP/ Ng Han Guan)
Kepala Bridgewater Associates Ray Dalio berpidato selama KTT Ekonomi yang diadakan untuk Forum Pembangunan China di Beijing, China pada 23 Maret 2019. (Foto: AP/ Ng Han Guan)

WASHINGTON, investor.id – Miliarder Ray Dalio mengkhawatirkan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) akan jadi lebih buruk dari resesi. Pendiri Bridgewater tersebut mengatakan, tarif dan kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump bisa mengakibatkan kekacauan dan mengancam ekonomi global.

“Saat ini kita berada pada titik pengambilan keputusan dan sangat dekat dengan resesi. Dan saya khawatir tentang sesuatu yang lebih buruk daripada resesi jika ini tidak ditangani dengan baik,” papar Dalio seperti dikutip NBC News, Senin (14/4/2025).

Miliarder pengelola hedge fund itu mengatakan, dirinya lebih khawatir tentang gangguan perdagangan, utang AS yang meningkat, serta negara-negara berkembang yang menghancurkan struktur ekonomi dan geopolitik internasional yang telah ada sejak akhir Perang Dunia II.

ADVERTISEMENT

“Kita beralih dari multilateralisme, yang sebagian besar merupakan tatanan dunia Amerika, ke tatanan dunia unilateral yang di dalamnya terdapat konflik besar,” imbuhnya.

Dalio menerangkan lima kekuatan mendorong sejarah, yaitu ekonomi, konflik politik internal, tatanan internasional, teknologi, dan bencana alam seperti banjir dan pandemi. Tarif Trump memiliki tujuan yang dapat dipahami, kata Dalio, tetapi tarif tersebut diterapkan dengan cara yang sangat mengganggu yang menciptakan konflik global.

Kebijakan tarif Trump yang berubah dengan cepat telah menjungkirbalikkan perdagangan internasional. Trump pada Rabu (9/4/2025) mengumumkan jeda 90 hari pada "tarif timbal baliknya", tetapi ia tetap teguh pada bea dasar 10% dan tarif timbal balik 145% pada China.

Kemudian, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengumumkan pengecualian dari tarif timbal balik untuk barang elektronik konsumen buatan China seperti telepon pintar, komputer, dan semikonduktor pada Jumat (18/4/2025) malam, meskipun produk tersebut tetap dikenakan tarif 20% yang diberlakukan awal tahun ini.

Namun, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menarik kembali pernyataan itu pada Minggu (13/4/2025) dan mengatakan pengecualian tersebut tidak permanen.

Dalam unggahan baru-baru ini di X, Dalio meminta AS untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan "win-win" dengan China yang akan menghargai yuan terhadap dolar. Ia juga meminta kedua negara untuk mengatasi utang mereka yang terus meningkat.

Dalio menyampaikan, Kongres AS harus mengurangi defisit federal menjadi 3% dari produk domestik bruto (PDB).

"Jika tidak, kita akan mengalami masalah permintaan-penawaran utang pada saat yang sama dengan masalah-masalah lainnya, dan hasilnya akan lebih buruk daripada resesi normal," tegas Dalio.

Masalahnnya, nilai uang kini dipertaruhkan. Keruntuhan pasar obligasi, dikombinasikan dengan kejadian-kejadian seperti konflik internal dan internasional, dapat menjadi guncangan yang lebih parah bagi sistem moneter daripada pembatalan standar emas oleh presiden Richard Nixon pada 1971 dan krisis keuangan global pada 2008.

Perubahan itu dapat dihindari, kata Dalio, jika para anggota parlemen bekerja sama untuk memangkas defisit dan AS mencegah konflik dan kebijakan yang tidak efisien di panggung global.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 30 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia