Jumat, 15 Mei 2026

Pemimpin Dunia dari China Hingga UE Adakan Pertemuan Iklim Tanpa AS

Penulis : Grace El Dora
23 Apr 2025 | 23:42 WIB
BAGIKAN
Pemandangan cakrawala Kota New York, gedung-gedung Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jalan raya FDR, dan langit biru. (Foto: UN)
Pemandangan cakrawala Kota New York, gedung-gedung Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jalan raya FDR, dan langit biru. (Foto: UN)

“Dunia kita menghadapi hambatan besar dan banyak krisis, tetapi kita tidak dapat membiarkan komitmen iklim melenceng. Para pembangkang dan kepentingan bahan bakar fosil mungkin mencoba menghalangi tetapi, seperti yang kita dengar hari ini, dunia terus bergerak maju,” ucap Guterres dalam pidatonya tak lama setelah pertemuan berakhir.

Sejauh ini, hanya 19 dari 195 penandatangan kesepakatan tersebut yang telah mengajukan rencana pemotongan emisi baru untuk dekade berikutnya, yang juga dikenal sebagai kontribusi yang ditentukan secara nasional atau NDC.

Di antara negara-negara tersebut adalah Inggris, Kanada, Jepang, Brasil, Uni Emirat Arab (UEA), dan AS, yang mengajukan rencana tersebut di bawah pemerintahan mantan presiden AS Joe Biden. Baik UE maupun China belum mengajukan rencana mereka.

ADVERTISEMENT

“Sebelum COP30 di Belem, China akan mengumumkan target kontribusi yang ditentukan secara nasional untuk 2035, yang mencakup seluruh cakupan ekonomi, termasuk semua gas rumah kaca,” beber Xi, menurut laporan CCTV.

Banyak dari 17 peserta pertemuan pada Rabu sepakat untuk mengajukan rencana baru pada September 2024, kata Guterres, ketika PBB akan mengadakan acara khusus.

“Rencana iklim baru menawarkan kesempatan unik untuk menjabarkan visi yang berani untuk transisi hijau yang adil selama dekade berikutnya. Rencana tersebut harus selaras dengan 1,5 derajat dan menetapkan target pengurangan emisi yang mencakup semua gas rumah kaca dan seluruh ekonomi,” kata Guterres.

Rencana baru tersebut akan menjadi dasar pertemuan puncak COP30, pertemuan iklim tahunan yang akan berlangsung di kota Amazon, Belem di Brasil pada November 2024. Para pemimpin global dan diplomat iklim yang hadir perlu menyusun peta jalan untuk memobilisasi pendanaan iklim sebesar US$ 1,3 triliun per tahun bagi negara-negara berkembang pada 2035.

Sementara itu, negara-negara berkembang akan mengharapkan negara-negara kaya untuk memenuhi janji mereka untuk menggandakan pendanaan adaptasi menjadi setidaknya US$ 40 miliar per tahun.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 32 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 36 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia