Jumat, 15 Mei 2026

Luhut Bahas Danantara dengan Lembaga Sejenis di China

Penulis : Grace El Dora
23 Mei 2025 | 09:34 WIB
BAGIKAN
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengikuti rapat dengan anggota Dewan Urusan Ekonomi dan Sosial China di Beijing pada Kamis (22/5/2025). (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengikuti rapat dengan anggota Dewan Urusan Ekonomi dan Sosial China di Beijing pada Kamis (22/5/2025). (Foto: ANTARA/ Desca Lidya Natalia)

BEIJING, investor.id – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan membahas Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) dengan lembaga sejenis di Beijing, China. Pembahasan ini dilakukan dalam kunjungan kerja (kunker) ke China dan bertemu sejumlah pejabat China dengan salah satu agenda untuk mempromosikan keunggulan Danantara.

"Saat pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Wang Yi, saya sampaikan bahwa Danantara ini konsolidasi dari semua aset BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kita. Jadi kita buat lebih transparan, lebih profesional," ungkap Luhut di Beijing, Kamis (22/5/2025).

Luhut Binsar Panjaitan melakukan lawatan ke Beijing pada 20-22 Mei 2025 bersama dengan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional⁠ ⁠(DEN) Mari Elka Pangestu, anggota sekaligus Direktur Eksekutif DEN Mochammad Firman Hidayat, Wakil Menteri (Wamen) Keuangan Thomas Djiwandono, Wamen Investasi dan Hilirisasi/ Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, Chief Information Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) Pandu Sjahrir, dan pejabat terkait lainnya.

ADVERTISEMENT

Selain bertemu dengan Menlu Wang Yi, sejumlah delegasi juga bertemu dengan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC), lembaga pengelola dana kekayaan negara China China Investment Corporation (CIC), Bank Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), State Development and Investment Corporation (SDIC) hingga Bank Of China (BOC).

"Danantara asetnya hampir US$ 1 triliun. Jadi saya sampaikan ke Menlu Wang Yi, 'Kenapa tidak kita buat 'Joint Sovereign Wealth Fund' untuk satu tujuan, misalnya Danantara mengalokasikan satu miliar dolar AS dan pihak China satu miliar dolar AS atau jumlah yang lain, dan sepertinya akan berjalan," beber Luhut.

Adapun total aset yang akan dikelola Danantara sejak resmi diluncurkan pada 24 Februari 2025 tersebut mencapai US$ 900 miliar atau sekitar Rp 14.000 triliun.

Pendanaan awal Danantara adalah sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 326 triliun dengan fokus berbagai proyek seperti hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga; pembangunan pusat data; pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), pembangunan kilang minyak pabrik petrokimia, produksi pangan dan protein, serta pengembangan Energi Baru Terbarukan (Renewable Energy/ EBT).

Luhut mengatakan baik pemerintah maupun pengusaha China masih menilai Indonesia sebagai lokasi investasi yang bagus.

"Mereka juga dapat untung dari kita karena saya sampaikan China juga untuk masalah suplai 'critical mineral' bisa China gabung dengan kita dan kita ajak juga Amerika kalau dia mau, Abu Dhabi juga, kenapa harus bertengkar?" tutur Luhut. Ia menambahkan, yang perlu dilakukan saat ini adalah implementasi langsung di lapangan.

"Yang saya tangkap di China semua sejalan, jadi kompak, tidak ada yang bicara ke utara, ke timur, ke selatan. Habis energi. Dan saya pikir Presiden Prabowo orangnya kan juga jelas semuanya, tinggal sekarang pembantunya harus cepat melakukan implementasinya," imbuhnya.

Selain soal Danantara, pembicaraan dengan pejabat di China juga terkait dengan ekonomi hijau dan pengaplikasian "Carbon Capture and Storage" dan "Carbon Capture Utilisation and Storage" (CCS/ CCUS). CCS/ CCUS merupakan teknologi yang memungkinkan emisi karbon dioksida (CO2) dipisahkan dari sumbernya, diangkut, dan disimpan secara permanen di bawah tanah.

Teknologi ini memiliki potensi besar untuk mengurangi emisi CO2 dari berbagai sektor industri, seperti pembangkit listrik, industri berat dan manufaktur. "Carbon capture storage kita punya 600 giga ton (GT). Jadi kita bikin kerja samanya, dimasukkan ke bawah tanah sehingga bisa green. Semua target emisi karbon 2050 bisa juga kita capai," tandasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia