Jumat, 15 Mei 2026

Mafia Uang Tunai “Serang” Gaza

Penulis : Prisma Ardianto
11 Jul 2025 | 22:06 WIB
BAGIKAN
Mohammed Najm beristirahat sejenak saat bekerja di pembakar darurat yang digunakan untuk mengekstrak bahan bakar dari plastik cair untuk dijual di sepanjang Jalan Laut, sebelah selatan Kota Gaza, Minggu (22/6/2025). (Foto: AP/ Abdel Kareem Hana)
Mohammed Najm beristirahat sejenak saat bekerja di pembakar darurat yang digunakan untuk mengekstrak bahan bakar dari plastik cair untuk dijual di sepanjang Jalan Laut, sebelah selatan Kota Gaza, Minggu (22/6/2025). (Foto: AP/ Abdel Kareem Hana)

JAKARTA, investor.id – Uang tunai masih menjadi urat nadi utama perekonomian di Jalur Gaza. Namun uang tunai layak semakin langka, membuat perantara memasang potongan tinggi hingga 40% kepada warga Gaza yang ingin mencairkan uang tunai.

Melansir Associated Press pada Jumat (11/7/2025), semua cabang bank dan ATM tidak beroperasi di Jalur Gaza. Masyarakat di sana bergantung pada perantara uang tunai—untuk dapat mencairkan dana dalam rekening menjadi uang tunai.

Di Gaza, inflasi meningkat, pengangguran tinggi, dan tabungan menipis. Dalam laporan Bank Dunia, pada tahun 2024 inflasi di Gaza melonjak sebesar 230% dan sekitar 80% penduduk menganggur. Kelangkaan uang tunai memperburuk kondisi finansial keluarga. Bahkan, beberapa di antara mereka terpaksa menjual harta benda yang dimiliki hanya untuk membeli kebutuhan pokok.

ADVERTISEMENT

“Kami harus menjual semuanya hanya untuk mendapatkan uang tunai,” kata Shahid Ajjour, yang menjual emasnya untuk membeli tepung dan kacang kaleng. Ia hidup dari tabungan selama dua tahun, setelah apotek dan bisnis lain yang mereka miliki hancur akibat perang.

Keluarga Ajjour yang beranggotakan delapan orang menghabiskan uang untuk berbelanja tepung sebesar US$ 4 dolar untuk kebutuhan dua hari sebelum perang. Setelah perang, mereka menghabiskan dana US$ 12 atau mencerminkan inflasi sebesar tiga kali lipat. Gula pun menjadi sangat mahal, harganya sekitar US$ 80–100 per kilogram (kg) atau bisa mencapai Rp 1.620.000 per kg. Begitu pula bensin yang dipatok US$ 25 per liter atau sekitar Rp 450.000 per liter.

Uang masih menjadi nadi perekonomian di Jalur Gaza di tengah perang yang masih berlangsung. Tetapi, uang tunai yang tersedia telah kehilangan sebagian daya tariknya. Warga Palestina menggunakan mata uang Israel, shekel, untuk sebagian besar transaksi.

Mafia Uang Tunai “Serang” Gaza
Ilustrasi kelangkaan pangan di Jalur Gaza. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

“Ketika Anda ingin membeli sayur-sayuran, makanan, air, obat-obatan—jika Anda ingin menggunakan transportasi, atau Anda membutuhkan selimut, atau apa pun—Anda harus menggunakan uang tunai,” kata al-Dahdouh.

Namun, karena Israel tidak lagi memasok wilayah tersebut dengan uang kertas cetak baru, membuat uang tunai semakin langka. Kebijakan ini tak lepas dari pendekatan Israel membatasi kemampuan Hamas membeli senjata dan membayar para pejuangnya sejak awal perang.

Praktis persediaan uang di Gaza akhirnya menyusut setelah 21 bulan perang. Komisi perantara uang tunai pun meningkat dari 5% pada awal perang menjadi saat ini 40%. Warga Gaza yang membutuhkan uang tunai harus mentransfer ke perantara, untuk kemudian memperoleh tagihan dan akhirnya bisa menggenggam uang tunai.

Beberapa perantara menjalankan bisnisnya secara terbuka, beberapa yang lain lebih tertutup. Beberapa toko kelontong dan pengecer juga ikut berbisnis sebagai perantara uang tunai guna melayani kebutuhan warga Gaza.

“Kalau saya butuh US$ 60, saya harus transfer US$ 100,” kata Mohammed Basheer al-Farra, yang tinggal di Gaza selatan setelah mengungsi dari Khan Younis. Ia terpaksa membayar komisi sebesar itu demi bisa membeli kebutuhan pokok seperti tepung atau gula.

“Kami kehilangan hampir setengah uang kami hanya untuk bisa membelanjakannya,” kata dia.

Perantara: Seperti Mafia

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia