Jumat, 15 Mei 2026

Tarif AS Tahan Laju Pertumbuhan di Asia Pasifik

Penulis : Grace El Dora
24 Jul 2025 | 09:40 WIB
BAGIKAN
Kontainer menumpuk di terminal kargo di Frankfurt, Jerman, Rabu (16/7/2025). (Foto: AP/ Michael Probst)
Kontainer menumpuk di terminal kargo di Frankfurt, Jerman, Rabu (16/7/2025). (Foto: AP/ Michael Probst)

MANILA, investor.id – Tarif Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dan ketidakpastian perdagangan telah memperburuk prospek ekonomi kawasan Asia Pasifik yang sedang berkembang. Hal ini disampaikan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam sebuah laporan pada Rabu (23/7/2025), seiring penurunan proyeksi pertumbuhan kawasan tersebut untuk tahun ini dan tahun depan.

Seperti dikutip Reuters pada Kamis (24/7/2025) permintaan domestik diperkirakan akan melemah, karena faktor-faktor seperti geopolitik, gangguan rantai pasokan, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian di pasar properti China yang menopang kawasan tersebut, menurut laporan Asian Development Outlook.

ADB memangkas proyeksi pertumbuhan kawasan tersebut untuk 2025 menjadi 4,7%, dari proyeksi 4,9% yang dibuat pada April 2025, juga proyeksi untuk 2026 dipangkas menjadi 4,6% dari 4,7%.

ADVERTISEMENT

“Asia dan Pasifik telah menghadapi lingkungan eksternal yang semakin menantang tahun ini. Namun, prospek ekonomi telah melemah di tengah meningkatnya risiko dan ketidakpastian global,” jelas kepala ekonom ADB Albert Park seperti dikutip Reuters, Kamis (24/7/2025).

Di antara sub-kawasan ini, Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami perlambatan paling tajam. Pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara diproyeksikan mencapai 4,2% pada 2025 dan 4,3% pada 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7% untuk kedua tahun tersebut.

“Perekonomian di kawasan ini harus terus memperkuat fundamentalnya dan mendorong perdagangan terbuka serta integrasi regional untuk mendukung investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan,” lanjut Park.

ADB mendefinisikan kawasan Asia Pasifik yang sedang berkembang sebagai 46 negara, mulai dari China, Georgia, hingga Samoa, dan tidak termasuk negara-negara seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Perkiraan tersebut muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintah AS dan Jepang telah mencapai kesepakatan yang mencakup tarif 15% untuk ekspor Jepang. Angka ini lebih rendah dari ancaman tarif 25%.

Trump juga mengumumkan tarif AS baru sebesar 19% untuk barang-barang dari Filipina. Angkanya di bawah ancaman tarif 20% yang diumumkan awal bulan ini, tetapi masih di atas tarif 17% yang diumumkan pada April 2025.

Trump telah mengacaukan arus perdagangan global dengan mengenakan tarif AS pada hampir setiap mitra dagang AS. Hampir semua negara menghadapi tarif 10% yang mulai berlaku pada April 2025 dan banyak yang menghadapi tarif tambahan yang tinggi mulai 1 Agustus 2025.

GDP GROWTH

2023

2024

2025

2025

2025

2026

2026

DEC

APRIL

JULY

APRIL

JULY

Caucasus and Central Asia

5.4

5.7

5.3

5.4

5.5

5.0

5.1

East Asia

4.8

4.7

4.2

4.4

4.3

4.0

4.0

China

5.4

5.0

4.5

4.7

4.7

4.3

4.3

South Asia

7.8

5.9

6.3

6.0

5.9

6.2

6.2

India

9.2

6.5

7.0

6.7

6.5

6.8

6.7

Southeast Asia

4.1

4.8

4.7

4.7

4.2

4.7

4.3

Indonesia

5.0

5.0

5.0

5.0

5.0

5.1

5.1

Malaysia

3.6

4.9

4.6

4.9

4.3

4.8

4.2

Myanmar

0.8

-0.7

n/a

1.1

n/a

1.6

 

Philippines

5.5

6.0

6.2

6.0

5.6

6.1

5.8

Singapore

1.8

4.4

2.6

2.6

1.6

2.4

1.5

Thailand

2.0

2.5

2.7

2.8

1.8

2.9

1.6

Vietnam

5.1

7.1

6.6

6.6

6.3

6.5

6.0

The Pacific

4.7

4.1

4.1

3.9

3.9

3.6

3.5

Developing Asia

5.5

5.1

4.8

4.9

4.7

4.7

4.6

INFLATION

         

Caucasus and Central Asia

10.2

6.8

6.2

6.9

7.8

5.9

6.7

East Asia 0.6 0.5 1.1 0.6 0.4 0.9 0.6
China 0.2 0.2 0.9 0.4 0.2 0.7 0.4
South Asia 7.9 6.5 5.4 4.9 4.4 4.5 4.5
India 5.4 4.6 4.3 4.3 3.8 4.0 4.0
Southeast Asia 4.2 3.0 3.1 3.0 2.6 2.8 2.7
Indonesia 3.7 2.3 2.8 2.0 1.5 2.0 2.0
Malaysia 2.5 1.8 2.6 2.5 2.4 2.5 2.4
Myanmar 27.5 27.8 n/a 29.3   20.0  
Philippines 6.0 3.2 3.2 3.0 2.2 3.0 3.0
Singapore 4.8 2.4 2.2 2.0 1.0 1.7 1.2
Thailand 1.2 0.4 1.2 1.0 0.5 1.1 0.8
Vietnam 3.3 3.6 4.0 4.0 3.9 4.2 3.8
The Pacific 3.1 2.0 4.1 3.4 3.4 3.7 3.7
Developing Asia 3.3 2.6 2.6 2.3 2.0 2.2 2.1

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia