Jumat, 15 Mei 2026

Indonesia Lobi AS untuk Bebaskan Tarif Ekspor Nanas dan Kayu Meranti

Penulis : Arnoldus Kristianus
28 Aug 2025 | 13:52 WIB
BAGIKAN
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso. (Foto: Istimewa)
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Indonesia terus melakukan negosiasi  agar sejumlah komoditas ekspor bisa mendapatkan pembebasan tarif bea masuk dari Amerika Serikat (AS). Beberapa komoditas yang ditargetkan akan mendapatkan pembebasan bea masuk adalah buah nanas dan kayu meranti.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan selama ini Indonesia mengekspor nanas dalam jumlah besar ke AS. Pasalnya AS tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan komoditas nanas secara mandiri. Padahal permintaan nanas mereka cukup besar.

“Ekspor (nanas)-nya ternyata besar ke AS. Kemarin saya tanya berapa waktu, kemarin saja US$ 100 juta. Itu kan besar sekali. Jadi memang produk yang hanya ada di kita, dibutuhkan rakyat Amerika, yang gitu-gitu kita dorong, ke 0% semua,” ucap Susiwijono kepada awak media di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Kamis (28/8/2025). 

ADVERTISEMENT

Susiwijono mengatakan Indonesia sudah memiliki PT Great Giant Pineapple yang menjadi pengekspor nanas terbesar di dunia. Bila Indonesia bisa menekan tarif ekspor nanas hingga 0% ke AS maka ekspor nanas bisa menjadi komoditas ekspor andalan.

“PT Great Giant Pineapple  itu kan pengekspor nanas terbesar di dunia, ini yang harus kita dorong,” tutur dia.

Komoditas potensial lainnya yang berpotensi untuk mendapatkan pembebasan tarif ekspor kayu meranti. Komoditas tersebut juga memiliki permintaan tinggi di AS sebab menjadi bahan baku untuk kendaraan. “Kayu meranti  betul-betul dibutuhkan oleh AS, mereka minta kita kirim kesana. Komoditas in harus kita minta 0%, karena mereka sendiri yang meminta,” tutur dia.

Sementara itu beberapa komoditas lain yang sudah masuk dalam tahap negosiasi agar mendapatkan pembebasan tarif adalah minyak mentah kelapa sawit, karet, kopi, dan kakao. Susiwijono menegaskan pihaknya terus melakukan perundingan perwakilan dari AS agar bisa mendapatkan pembebasan tarif.

“Lalu ada beberapa produk-produk hortikultura seperti  buah-buahan juga ada yang kita usulkan. Mungkin nanti itu kelompok tersendiri. Kemudian yang berkait dengan  mineral kritis,” pungkas Susiwijono.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia