Tawaran Iran Melunak untuk AS, Kerja Sama Energi Demi Kesepakatan Nuklir
TEHERAN, investor.id – Otoritas Iran mulai melunakkan sikap dalam upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS). Menjelang putaran kedua perundingan di Jenewa, Iran menawarkan berbagai kerja sama ekonomi strategis di sektor energi, pertambangan, hingga pembelian pesawat sebagai "pemanis" bagi AS.
Diplomat senior Iran menyatakan demi menjaga keberlangsungan perjanjian, penting bagi AS untuk turut merasakan keuntungan ekonomi secara langsung. Hal ini menandai pergeseran strategi Iran dibandingkan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) yang dinilai kurang memberikan keuntungan komersial bagi pihak AS, seperti dikutip CNBC internasional, Senin (16/2/2026).
Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran Hamid Ghanbari mengungkapkan, poin-poin negosiasi kini mencakup kepentingan bersama di ladang minyak dan gas, investasi pertambangan, hingga pengadaan pesawat terbang.
"Agar kesepakatan ini tahan lama, AS juga harus mendapatkan manfaat di area dengan imbal hasil ekonomi yang cepat dan tinggi," ujar Ghanbari sebagaimana dikutip dari kantor berita Fars, Senin.
Perundingan kali ini dilakukan secara eksklusif antara Iran dan Amerika Serikat dengan Oman sebagai mediator, berbeda dengan format multilateral pada 2015.
Di sisi lain, pihak AS tetap menunjukkan sikap waspada. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio menegaskan Presiden AS Donald Trump lebih mengutamakan solusi diplomatik, meski ia tetap skeptis mengingat sejarah panjang ketegangan kedua negara.
"Belum ada yang pernah berhasil membuat kesepakatan sukses dengan Iran, tapi kami akan mencobanya," beber Rubio di Bratislava.
Sebagai bentuk tekanan, AS telah mengerahkan kapal induk kedua ke wilayah tersebut untuk mengantisipasi kegagalan diplomasi. Sementara itu, sumber internal menyebutkan utusan khusus AS, termasuk Jared Kushner dan Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu dengan pejabat Iran di Jenewa pada Selasa mendatang.
Syarat Berat dari Israel
Di tengah proses negosiasi, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyuarakan syarat ketat. Ia mendesak agar kesepakatan apa pun tidak hanya menghentikan pengayaan uranium, tetapi juga menghancurkan seluruh infrastruktur nuklir Iran.
"Tidak boleh ada kemampuan pengayaan sama sekali. Bukan sekadar menghentikan prosesnya, tapi membongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan pengayaan itu terjadi," tegas Netanyahu.
Ketegangan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat berakar pada kekhawatiran Barat bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan ini terus dibantah oleh Iran dengan klaim program mereka murni untuk tujuan damai dan energi.
Puncaknya terjadi pada 2015 ketika kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) ditandatangani, yang memberikan keringanan sanksi ekonomi bagi Iran sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas nuklirnya. Namun, pada 2018, di bawah periode pertama kepemimpinan Donald Trump, AS secara sepihak keluar dari perjanjian tersebut dan menerapkan sanksi "tekanan maksimum".
Langkah tersebut memicu Iran untuk kembali meningkatkan pengayaan uraniumnya. Perundingan yang terjadi pada 2026 ini dipandang sebagai upaya terakhir untuk menghindari konfrontasi militer terbuka, terutama setelah serangkaian serangan udara gabungan AS-Israel terhadap situs nuklir Iran pada pertengahan 2025 lalu yang sempat mengguncang stabilitas kawasan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






