Sebelum Serang Iran, Trump Diberitahu CIA: Risiko Tinggi, tapi Imbalannya Besar
WASHINGTON DC, investor.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan "Operasi Epic Fury" terhadap Iran setelah menerima pengarahan keamanan yang kontradiktif bahwa korban jiwa di pihak AS mungkin akan besar, tapi pergeseran geopolitik Timur Tengah bakal menguntungkan kepentingan Amerika.
Dikutip dari Reuters pada Minggu (1/3/2026), seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa para pemberi pengarahan menggambarkan operasi ini sebagai skenario "High Risk, High Reward". Meski berpotensi memicu korban jiwa besar, serangan ini disebut sebagai peluang sekali seumur hidup untuk mengubah peta kekuatan di kawasan tersebut secara permanen.
Trump secara terbuka mengakui pertaruhan nyawa prajurit Amerika dalam pidato pengumumannya. “Nyawa para pahlawan Amerika yang pemberani mungkin akan hilang. Namun, kita melakukan ini bukan untuk sekarang, melainkan untuk masa depan. Ini adalah misi yang mulia,” tegasnya.
Keputusan untuk menjalankan operasi militer paling berisiko sejak invasi Irak 2003 ini diambil setelah Trump menerima serangkaian pengarahan dari Direktur CIA John Ratcliffe, Menlu Marco Rubio, dan Menhan Pete Hegseth. Bahkan, Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, terbang langsung ke Gedung Putih untuk memberikan penilaian teknis di Ruang Situasi.
“Selama 47 tahun, rezim Iran telah meneriakkan 'Matilah Amerika' dan melancarkan kampanye pembantaian dan pembunuhan massal yang tak kunjung henti... Kami tidak akan mentolerirnya lagi,” ujar Trump daalam pidato dimulainya operasi besar-besaran ke Iran.
Namun, di balik optimisme "imbalan besar" tersebut, terdapat keraguan serius mengenai kesiapan pertahanan. Pejabat internal menyebut sistem pertahanan udara AS di wilayah tersebut memiliki keterbatasan karena dikirim secara tergesa-gesa. Selain itu, serangan balik dari rudal Iran dan proksinya di Irak serta Suriah menjadi ancaman nyata yang dapat melumpuhkan basis militer AS.
Meski Trump menyerukan penggulingan rezim, para ahli seperti Nicole Grajewski dari Carnegie Endowment for International Peace meragukan efektivitasnya. Ia menilai oposisi Iran yang terfragmentasi membuat pemberontakan rakyat sebagai hasil akhir dari serangan ini masih menjadi tanda tanya besar.
“Oposisi Iran cukup terpecah-pecah. Tidak jelas apa yang bersedia dilakukan oleh masyarakat (Iran) dalam hal pemberontakan,” kata Grajewski.
Kini, Timur Tengah berada dalam pusaran konflik baru setelah militer AS dan Israel menyerang berbagai titik di Iran pada Sabtu (28/2/2026), yang segera dibalas dengan serangan rudal Iran ke Israel dan negara-negara Arab Teluk.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Tag Terpopuler
Terpopuler






