Selat Hormuz Membara: Ancaman Tersembunyi di Balik Runtuhnya Ekonomi AI Dunia
JAKARTA, investor.id – Kemudahan kita membuat video berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) dalam hitungan detik ternyata menyimpan kerentanan fisik yang mengejutkan. Teknologi masa depan ini rupanya sangat bergantung pada satu titik nadi di Timur Tengah, yaitu Selat Hormuz.
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini mengancam pasokan energi global. Pengamat energi dan iklim David Fickling memperingatkan industri teknologi dunia sangat bergantung pada aliran minyak dan gas melalui selat tersebut, seperti dikutip Bloomberg internasional, Jumat (6/3/2026).
Rantai Pasokan yang Rapuh
Kerentanan ini berpusat pada dua raksasa teknologi Asia, yakni Korea Selatan dan Taiwan.
- Korea Selatan: Memproduksi lebih dari separuh cip memori (DRAM dan NAND) dunia.
- Taiwan: Memproduksi sekitar 70% cip prosesor canggih untuk ponsel pintar, PC, dan pusat data.
Masalah utamanya adalah kedua negara ini sangat bergantung pada ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dari Qatar untuk menggerakkan pabrik-pabrik mereka. Ketika fasilitas gas Ras Laffan di Qatar menghentikan produksi akibat serangan militer pada Senin (2/3/2026), alarm bahaya bagi industri teknologi pun berbunyi.
Pasar Saham Terguncang
Dampaknya langsung terasa di lantai bursa pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 12%, penurunan harian terbesar dalam sejarah, terutama karena saham Samsung Electronics dan SK Hynix merosot tajam. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan jatuh 4,4% akibat kekhawatiran terganggunya produksi TSMC.
Berbeda dengan Jepang yang memiliki sumber pasokan beragam, Korea Selatan dan Taiwan berada di posisi paling berisiko. Cadangan energi mereka sangat terbatas; Korea Selatan hanya memiliki stok untuk dua bulan, sementara Taiwan bahkan kurang dari satu bulan.
Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga April 2026, pasokan listrik untuk pabrik-pabrik cip raksasa tersebut terancam lumpuh.
Kebijakan Energi yang Dinilai Salah Arah
Krisis ini menjadi teguran keras bagi kedua negara. Saat dunia berlomba beralih ke energi terbarukan pasca-invasi Rusia ke Ukraina, Korea Selatan dan Taiwan justru dinilai berjalan di tempat.
Taiwan telah menutup pembangkit listrik tenaga nuklir terakhirnya dan memberlakukan aturan yang mempersulit pembangunan ladang tenaga surya. Di Korea Selatan, regulasi lahan yang ketat juga menghambat perkembangan energi bersih. Akibatnya, dua "jantung" teknologi dunia ini tetap terikat pada pasokan bahan bakar dari kawasan konflik.
Peluang bagi Australia dan AS
Di tengah kemelut ini, Australia dan Amerika Serikat yang merupakan pesaing Qatar dalam ekspor LNG, berpeluang mengambil alih pangsa pasar melalui penjualan pasar spot. Namun, harga yang ditawarkan dipastikan jauh lebih mahal, yang pada akhirnya dapat mengerek harga perangkat elektronik di seluruh dunia.
Krisis ini menunjukkan betapa demokrasi maju di Asia, dan dunia secara luas, masih sangat bergantung pada satu selat yang bergejolak di Timur Tengah. Sudah saatnya Korea Selatan dan Taiwan mempercepat transisi energi mereka.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling krusial di dunia yang menghubungkan produsen minyak dan gas di Teluk Persia dengan pasar global.
Sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia dan sepertiga dari perdagangan LNG global melewati jalur sempit ini. Bagi negara-negara industri di Asia Timur yang miskin sumber daya alam, gangguan di selat ini bukan hanya soal kenaikan harga BBM, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan energi yang menggerakkan industri manufaktur teknologi tinggi.
Sejarah mencatat krisis energi sering kali menjadi pemicu perubahan kebijakan besar-besaran. Konflik kali ini mungkin menjadi titik balik bagi Asia untuk melepaskan ketergantungan pada energi fosil dari wilayah yang tidak stabil.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





