Minggu, 21 Juni 2026

Selat Hormuz Membara: Ancaman Tersembunyi di Balik Runtuhnya Ekonomi AI Dunia

Penulis : Grace El Dora
6 Mar 2026 | 19:39 WIB
BAGIKAN
Kapal induk USS Dwight D. Eisenhower dan kapal perang lainnya melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia. (Foto: Information Technician Second Class Ruskin Naval/ US Navy via AP)
Kapal induk USS Dwight D. Eisenhower dan kapal perang lainnya melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Persia. (Foto: Information Technician Second Class Ruskin Naval/ US Navy via AP)

JAKARTA, investor.id – Kemudahan kita membuat video berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) dalam hitungan detik ternyata menyimpan kerentanan fisik yang mengejutkan. Teknologi masa depan ini rupanya sangat bergantung pada satu titik nadi di Timur Tengah, yaitu Selat Hormuz.

Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini mengancam pasokan energi global. Pengamat energi dan iklim David Fickling memperingatkan industri teknologi dunia sangat bergantung pada aliran minyak dan gas melalui selat tersebut, seperti dikutip Bloomberg internasional, Jumat (6/3/2026).

Rantai Pasokan yang Rapuh

Kerentanan ini berpusat pada dua raksasa teknologi Asia, yakni Korea Selatan dan Taiwan.

ADVERTISEMENT

- Korea Selatan: Memproduksi lebih dari separuh cip memori (DRAM dan NAND) dunia.

- Taiwan: Memproduksi sekitar 70% cip prosesor canggih untuk ponsel pintar, PC, dan pusat data.

Masalah utamanya adalah kedua negara ini sangat bergantung pada ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dari Qatar untuk menggerakkan pabrik-pabrik mereka. Ketika fasilitas gas Ras Laffan di Qatar menghentikan produksi akibat serangan militer pada Senin (2/3/2026), alarm bahaya bagi industri teknologi pun berbunyi.

Pasar Saham Terguncang

Dampaknya langsung terasa di lantai bursa pada Rabu (4/3/2026) waktu setempat. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 12%, penurunan harian terbesar dalam sejarah, terutama karena saham Samsung Electronics dan SK Hynix merosot tajam. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan jatuh 4,4% akibat kekhawatiran terganggunya produksi TSMC.

Berbeda dengan Jepang yang memiliki sumber pasokan beragam, Korea Selatan dan Taiwan berada di posisi paling berisiko. Cadangan energi mereka sangat terbatas; Korea Selatan hanya memiliki stok untuk dua bulan, sementara Taiwan bahkan kurang dari satu bulan.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga April 2026, pasokan listrik untuk pabrik-pabrik cip raksasa tersebut terancam lumpuh.

Kebijakan Energi yang Dinilai Salah Arah

Krisis ini menjadi teguran keras bagi kedua negara. Saat dunia berlomba beralih ke energi terbarukan pasca-invasi Rusia ke Ukraina, Korea Selatan dan Taiwan justru dinilai berjalan di tempat.

Taiwan telah menutup pembangkit listrik tenaga nuklir terakhirnya dan memberlakukan aturan yang mempersulit pembangunan ladang tenaga surya. Di Korea Selatan, regulasi lahan yang ketat juga menghambat perkembangan energi bersih. Akibatnya, dua "jantung" teknologi dunia ini tetap terikat pada pasokan bahan bakar dari kawasan konflik.

Peluang bagi Australia dan AS

Di tengah kemelut ini, Australia dan Amerika Serikat yang merupakan pesaing Qatar dalam ekspor LNG, berpeluang mengambil alih pangsa pasar melalui penjualan pasar spot. Namun, harga yang ditawarkan dipastikan jauh lebih mahal, yang pada akhirnya dapat mengerek harga perangkat elektronik di seluruh dunia.

Krisis ini menunjukkan betapa demokrasi maju di Asia, dan dunia secara luas, masih sangat bergantung pada satu selat yang bergejolak di Timur Tengah. Sudah saatnya Korea Selatan dan Taiwan mempercepat transisi energi mereka.

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling krusial di dunia yang menghubungkan produsen minyak dan gas di Teluk Persia dengan pasar global.

Sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia dan sepertiga dari perdagangan LNG global melewati jalur sempit ini. Bagi negara-negara industri di Asia Timur yang miskin sumber daya alam, gangguan di selat ini bukan hanya soal kenaikan harga BBM, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan energi yang menggerakkan industri manufaktur teknologi tinggi.

Sejarah mencatat krisis energi sering kali menjadi pemicu perubahan kebijakan besar-besaran. Konflik kali ini mungkin menjadi titik balik bagi Asia untuk melepaskan ketergantungan pada energi fosil dari wilayah yang tidak stabil.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 3 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia