Prancis Siap Bantu Amankan Selat Hormuz, Namun Ajukan Syarat Ketat
PARIS, investor.id – Pemerintah Prancis menyatakan kesiapannya untuk mendukung Amerika Serikat (AS) dalam mengamankan Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Namun, Paris menegaskan tidak akan mengirimkan pasukannya selama wilayah tersebut masih menjadi zona tempur yang dihujani rudal dan pesawat nirawak (drone).
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyampaikan, bantuan keamanan baru bisa diberikan jika situasi telah mereda atau terdevaluasi.
"Kami bersedia melakukan sesuatu untuk membebaskan Selat Hormuz, asalkan kondisinya bukan lagi situasi perang. Tidak ada yang mau melintasi Selat Hormuz jika ada risiko rudal atau drone jatuh di atas kepala Anda," ujar Lescure di konferensi Euronext seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (19/3/2026).
Enggan Terjebak dalam "Perang Pilihan"
Sikap Prancis ini muncul di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu Eropa, termasuk Inggris dan Jerman, yang dianggap gagal membantu AS membuka kembali Selat Hormuz. Jalur laut yang dikendalikan oleh Iran ini sangat krusial bagi ekspor minyak dan gas global.
Meski demikian, negara-negara Eropa tampak ragu untuk terlibat lebih jauh. Mereka memandang ketegangan antara AS, Israel, dan Iran saat ini sebagai "perang pilihan" (war of choice) ketimbang kebutuhan mendesak, dengan tujuan dan akhir yang dianggap tidak jelas.
Senada dengan Lescure, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas menegaskan posisi kawasan tersebut.
"Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa secara langsung sedang dipertaruhkan," tegas Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas.
Menunggu Situasi Kondusif
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mempertegas posisi negaranya. Ia memastikan bahwa dalam konteks saat ini, Prancis bukan merupakan pihak yang bertikai dan tidak akan ambil bagian dalam operasi pembukaan selat secara militer.
"Kami yakin setelah situasi mereda, setelah pengeboman utama berhenti, kami siap bersama negara-negara lain untuk memikul tanggung jawab dalam sistem pengawalan kapal," pungkas Macron.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) maritim paling penting di dunia yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak bumi dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya.
Ketegangan di selat ini sering kali meningkat seiring memburuknya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Penutupan atau gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada lonjakan harga energi global, yang memicu kekhawatiran krisis ekonomi di Eropa dan Asia.
Posisi Prancis yang memilih untuk menunggu deeskalasi mencerminkan upaya diplomasi Eropa untuk menyeimbangkan dukungan terhadap sekutu (AS) tanpa harus terseret ke dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





