Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Selamanya
TEHERAN, investor.id – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Pemerintah Iran mengeluarkan ancaman akan menutup Selat Hormuz secara permanen jika militer Amerika Serikat (AS) merealisasikan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengebom fasilitas energi mereka.
Berdasarkan laporan CNN pada Selasa (24/3/2025), militer Iran menegaskan bahwa jalur perairan paling strategis di dunia tersebut tidak akan dibuka kembali sampai seluruh infrastruktur energi yang rusak akibat serangan AS dibangun kembali sepenuhnya.
Saling Lempar Ancaman
Ancaman Iran ini merupakan respons langsung terhadap ultimatum keras Donald Trump. Melalui unggahan di media sosial saat akhir pekan di Florida, Trump memberi waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka penuh Selat Hormuz. Jika tidak, AS mengancam akan melenyapkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Tak tinggal diam, Teheran balik mengancam. Jika rumah-rumah di Iran mengalami pemadaman listrik akibat serangan tersebut, mereka akan menargetkan seluruh infrastruktur energi dan komunikasi Israel, termasuk perusahaan-perusahaan di kawasan yang memiliki pemegang saham asal Amerika Serikat.
Dampak Global: Harga Minyak Meroket
Konflik ini telah menyebabkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz hampir terhenti total. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin pagi, dengan patokan harga AS sempat menyentuh angka US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak jenis Brent ini menjadi tantangan berat bagi negara-negara importir besar seperti India. Harga minyak yang terus melambung berpotensi memicu inflasi global, memperlebar ketidakseimbangan eksternal, dan melemahkan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS.
Eskalasi Militer di Pekan Keempat
Memasuki minggu keempat konflik, situasi di lapangan semakin berdarah. Rudal Iran dilaporkan menghantam dua pemukiman di Israel Selatan pada Sabtu (21/3/2026) malam, melukai puluhan orang di lokasi yang tak jauh dari pusat penelitian nuklir utama Israel.
Hingga saat ini, korban jiwa terus berjatuhan. Tercatat lebih dari 1.500 orang tewas di Iran, 1.000 di Lebanon, 15 di Israel, dan 13 anggota militer AS gugur. Jutaan warga di Lebanon dan Iran kini terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka.
Selat Hormuz merupakan titik nadi utama perdagangan energi global yang terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Jalur sempit ini menjadi perlintasan wajib bagi sekitar 20% dari total konsumsi minyak bumi dunia setiap harinya.
Secara geopolitik, selat ini adalah "senjata" terkuat Iran; dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya, gangguan kecil di wilayah ini mampu mengguncang stabilitas ekonomi dunia dalam hitungan jam.
Krisis terbaru ini bermula dari eskalasi militer yang kian intens antara pasukan koalisi pimpinan AS-Israel dengan kekuatan regional Iran.
Di tengah inflasi global yang belum stabil, ancaman penutupan Selat Hormuz bukan sekadar gertakan militer, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan energi banyak negara, terutama negara-negara industri yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





