Minggu, 21 Juni 2026

Trump Targetkan AS Angkat Kaki dari Iran dalam Dua Minggu

Penulis : Grace El Dora
2 Apr 2026 | 04:50 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendengarkan di Ruang Oval Gedung Putih sebelum menandatangani perintah eksekutif pada Selasa (31/3/2026) di Washington, AS. (Foto: AP/ Alex Brandon)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendengarkan di Ruang Oval Gedung Putih sebelum menandatangani perintah eksekutif pada Selasa (31/3/2026) di Washington, AS. (Foto: AP/ Alex Brandon)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal kuat operasi militer AS di Iran akan segera berakhir. Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump memprediksi pasukan Amerika akan meninggalkan wilayah tersebut dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan.

Langkah ini diambil di tengah upaya pemerintahannya melakukan pembicaraan dengan otoritas Iran, sembari tetap melanjutkan kampanye serangan udara yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Trump meyakini, penarikan pasukan ini akan berdampak langsung pada penurunan harga bahan bakar global yang meroket selama konflik.

"Saya hanya perlu meninggalkan Iran, dan kita akan melakukannya segera. Setelah itu, harga-harga akan jatuh. Kita sedang menyelesaikan tugas ini, dan saya rasa mungkin dalam dua minggu, atau beberapa hari lebih lama, pekerjaan ini akan tuntas," ujar Trump seperti dikutip Associated Press, Kamis (2/4/2026).

Tak Butuh Kesepakatan, Hanya "Zaman Batu"

ADVERTISEMENT

Secara mengejutkan, Trump menegaskan berakhirnya operasi militer AS tidak bergantung pada tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Teheran. Meskipun Iran membalas serangan dengan menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas tanker minyak, Trump tetap bergeming.

"Mereka tidak harus membuat kesepakatan dengan saya. Ketika kami merasa mereka telah dikembalikan ke 'Zaman Batu' dalam jangka waktu lama dan tidak mampu lagi membuat senjata nuklir, barulah kami pergi. Apakah ada kesepakatan atau tidak, itu tidak relevan," tegasnya.

Sentil Sekutu: "Ambil Minyak Kalian Sendiri!"

Trump juga mengulangi seruannya agar negara-negara lain, termasuk para sekutu, untuk berani mengamankan pasokan minyak mereka sendiri di Selat Hormuz. Ia meluapkan kekesalannya karena banyak negara menolak membantu militer AS dalam upaya membebaskan jalur lintas tanker tersebut.

"Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka harus pergi sendiri ke Selat Hormuz dan membela diri mereka sendiri," lanjut Trump. Ia bahkan menyebut negara-negara seperti China akan mampu mengurus kapal-kapal mereka sendiri tanpa bantuan Amerika.

Pernyataan serupa juga ia unggah melalui platform Truth Social: "AS tidak akan ada lagi di sana untuk membantu kalian, sama seperti kalian yang tidak ada untuk kami. Iran sudah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Cari minyak kalian sendiri!"

Hari-Hari Penentuan

Senada dengan sang Presiden, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan hari-hari mendatang akan menjadi momen "penentuan" dalam konflik ini. Meski menolak memberikan rincian terkait peran pasukan darat, Hegseth menegaskan Iran hampir tidak bisa melakukan apa pun secara militer untuk membendung tekanan AS.

Hegseth juga mengungkapkan, dirinya baru saja melakukan kunjungan mendadak ke markas CENTCOM (Komando Pusat AS) untuk menemui pasukan yang terlibat dalam operasi terhadap Iran, meskipun lokasi pangkalan tersebut dirahasiakan demi keamanan operasional.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026, sering disebut sebagai bagian dari Operation Epic Fury, telah membawa dunia ke ambang krisis energi terbesar dalam satu dekade terakhir.

Serangan udara intensif AS yang menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran dibalas oleh Teheran dengan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia.

Sikap "lepas tangan" Trump terhadap keamanan Selat Hormuz menandai pergeseran drastis kebijakan luar negeri AS dari peran tradisionalnya sebagai "polisi dunia".

Dengan memaksa sekutu dan negara pengimpor minyak untuk mengamankan jalur pelayaran secara mandiri, AS di bawah kepemimpinan Trump tampak ingin mengurangi beban finansial militer di luar negeri sembari menekan harga energi domestik. Namun, pendekatan ini meninggalkan ketidakpastian besar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan masa depan diplomasi nuklir global.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 1 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 32 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia