Iran Kesulitan Buka Selat Hormuz Akibat Ranjau Laut yang ’Hilang’
ISTANBUL, investor.id – Upaya pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh menemui kendala teknis yang serius. Pemerintah Iran dilaporkan kesulitan menyingkirkan ranjau laut yang mereka pasang sendiri di jalur pelayaran strategis tersebut karena kehilangan jejak posisi sejumlah perangkat ledak itu.
Laporan New York Times yang dirilis Jumat (10/4/2026) menyebutkan Iran tidak mampu mendeteksi kembali seluruh ranjau laut yang telah disebar bulan lalu. Mengutip pejabat Amerika Serikat, laporan tersebut mengungkapkan situasi ini menghambat kemampuan Iran untuk menjamin keamanan lalu lintas kapal, meskipun tekanan dari Washington terus meningkat.
Kendala Teknis dan Bahaya Hanyut
Ranjau-ranjau tersebut sebelumnya dipasang menggunakan kapal-kapal kecil pasca-pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini sempat melumpuhkan lalu lintas kapal tanker dan memicu lonjakan harga energi global secara drastis.
Meski Iran berupaya menjaga koridor sempit agar tetap bisa dilalui, terutama bagi kapal yang bersedia membayar "biaya tol", rute aman tersebut sangat terbatas. Para pejabat AS menduga beberapa ranjau telah hanyut terbawa arus atau tidak tercatat koordinatnya dengan akurat saat proses pemasangan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi selat akan tetap dibuka namun dengan catatan mempertimbangkan keterbatasan teknis. Pernyataan ini ditafsirkan oleh intelijen Barat sebagai pengakuan tersirat atas sulitnya proses pembersihan ranjau tersebut.
Diplomasi di Islamabad
Masalah ranjau ini diprediksi akan menjadi topik utama dalam perundingan di Pakistan antara delegasi Iran dan delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Washington mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali secara "lengkap, segera, dan aman" demi stabilitas ekonomi dunia.
Hingga saat ini, proses pembersihan ranjau darurat masih berlangsung. Namun, para ahli memperingatkan bahwa menyingkirkan ranjau laut jauh lebih sulit dan memakan waktu lama dibandingkan saat memasangnya, apalagi kedua belah pihak disebut belum memiliki armada pembersih ranjau yang mampu bekerja dalam waktu singkat.
Penggunaan ranjau laut merupakan salah satu taktik "perang asimetris" yang paling efektif sekaligus berbahaya dalam mengontrol jalur perairan sempit seperti Selat Hormuz. Ranjau laut tidak hanya berfungsi sebagai senjata penghancur fisik bagi kapal tanker raksasa, tetapi juga sebagai senjata psikologis yang mampu menghentikan aktivitas perdagangan global secara instan.
Dalam sejarah konflik di kawasan Teluk, ranjau laut sering kali menjadi ancaman jangka panjang karena sifatnya yang sulit dideteksi setelah dilepaskan ke laut lepas. Arus laut yang kuat di Selat Hormuz dapat memindahkan ranjau dari titik awal pemasangan, mengubahnya menjadi "ancaman terapung" yang tidak terkendali.
Tanpa peta koordinat yang akurat atau teknologi pembersihan (minesweeping) yang canggih, pemulihan jalur pelayaran internasional dapat memakan waktu berbulan-bulan, yang pada akhirnya akan terus menekan stabilitas harga minyak dan asuransi pengiriman barang di seluruh dunia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





