Blokade Selat Hormuz Picu Kepanikan, Bitcoin Terperosok ke $70.623
NEW YORK, investor.id – Pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai blokade Selat Hormuz memicu kepanikan di pasar finansial global. Harga aset kripto Bitcoin (BTC) dilaporkan merosot, sementara harga minyak mentah melonjak tajam setelah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinyatakan gagal.
Harga Bitcoin jatuh ke titik terendah di level US$ 70.623. Mata uang kripto utama ini awalnya terkoreksi 1,9% sesaat setelah Trump mengonfirmasi blokade melalui unggahan di media sosialnya Truth Social seperti dipantau CoinTelegraph, Senin (13/4/2026). Penurunan berlanjut hingga mencapai 2,7% dalam sehari seiring dibukanya pasar berjangka (futures) AS.
Berbanding terbalik dengan Bitcoin, sektor energi justru membara. Hanya dalam waktu 30 menit sejak pasar dibuka, harga minyak mentah melonjak drastis sebesar 9,5% ke level US$ 105 per barel. Lonjakan ini merupakan imbas langsung dari ancaman gangguan pada jalur distribusi minyak mentah dunia.
Gagalnya Diplomasi Nuklir
Presiden Trump menegaskan blokade ini dilakukan karena Iran menolak menghentikan program senjata nuklirnya, menjadi isu yang menurutnya paling krusial. Selain masalah nuklir, Iran sebelumnya menuntut AS untuk membayar reparasi (ganti rugi) perang dan mencairkan aset-aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri.
Trump mengabaikan tuntutan tersebut dan justru melabeli tindakan Iran, seperti pemasangan ranjau laut dan penarikan biaya lintas (toll) di Selat Hormuz, sebagai bentuk "pemerasan dunia".
Sebagai respons, ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menghancurkan ranjau dan mencegat setiap kapal yang membayar biaya ilegal kepada Iran.
Volatilitas Pasar Tertinggi Sejak 2022
Sengketa kendali atas Selat Hormuz, yang menampung seperlima perdagangan minyak global, telah menyebabkan disrupsi pasar selama enam pekan terakhir. Para analis mencatat volatilitas pasar minyak saat ini adalah yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022.
Meski Bitcoin mengalami tekanan dalam jangka pendek, secara kumulatif aset digital ini sebenarnya masih naik sekitar 7,4% sejak konflik AS-Iran meletus pada 28 Februari 2026. Bitcoin tercatat masih memiliki performa yang lebih baik dibandingkan indeks S&P 500 dan emas sejak perang dimulai, meskipun saat ini masih jauh dari level tertingginya di angka US$ 126.080 yang sempat disentuh pada Oktober tahun lalu.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim paling strategis di dunia bagi industri energi. Setiap harinya, jutaan barel minyak mentah dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait melintasi jalur sempit ini menuju pasar internasional. Secara geografis, selat ini dikelilingi oleh Iran di sisi utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Ketergantungan dunia pada jalur ini menjadikannya "kartu as" dalam ketegangan geopolitik. Sejarah mencatat, gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz akan langsung memicu efek domino pada inflasi global dan ketidakpastian pasar modal. Blokade yang diumumkan AS kali ini membawa dunia kembali ke ambang krisis energi besar yang berpotensi mengubah peta ekonomi global secara permanen.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






