Pasar Saham Global Mixed, Bursa AS Tertekan Pasca Reli Teknologi
BANGKOK, investor.id – Pasar saham global bergerak variatif pada perdagangan Jumat (19/6/2026), sementara kontrak berjangka (futures) bursa Amerika Serikat (AS) cenderung melemah. Sentimen positif terkait kesepakatan damai antara AS dan Iran tampaknya meredup menyusul penundaan pembicaraan penting mengenai program nuklir Iran dan pembukaan kembali jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Pasar modal AS akan tutup pada hari ini untuk merayakan hari libur Juneteenth, lapor Associated Press.
Ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Selain penundaan perundingan di Swiss, laporan mengenai serangan militer Israel di Lebanon selatan serta pertempuran sengit yang melibatkan kelompok Hizbullah terus memicu kekhawatiran pelaku pasar.
"Kedua belah pihak mencoba menunjukkan iktikad baik. Namun, meskipun situasi tampak lebih tenang di permukaan, arus bawah tetap kuat. Kesepakatan yang ada masih rapuh di berbagai lini," ujar analis RaboResearch Bas van Geffen, Jumat.
Pergerakan Pasar Asia dan Eropa
Di bursa Eropa, indeks DAX Jerman menguat 0,4%, sejalan dengan indeks CAC 40 di Paris yang naik 0,4%. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1%.
Di Asia, indeks Nikkei 225 Tokyo ditutup menguat 0,3% dan mencetak rekor baru di level 71.250,06. Kenaikan ini terjadi di tengah kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang baru saja menaikkan suku bunga acuan ke level 1%, tertinggi dalam tiga dekade, guna merespons inflasi.
Sebaliknya, indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,1%, dan indeks ASX 200 Australia turun 0,9%. Adapun bursa Hong Kong, Shanghai, dan Taiwan tutup dalam rangka libur Festival Perahu Naga.
Sebelumnya, Wall Street sempat mencatatkan kenaikan signifikan pada Kamis (18/6/2026) yang didorong oleh performa saham sektor teknologi. Indeks Nasdaq melonjak 1,9%, sementara S&P 500 naik 1,1%.
Saham Intel melonjak 10,6% setelah pengumuman bahwa perusahaan tersebut akan memproduksi cip untuk Apple di AS. Kenaikan juga diikuti oleh Nvidia yang naik 3% dan Micron Technology yang melesat 8,7%. Di sisi lain, saham SpaceX milik Elon Musk kembali terkoreksi sebesar 3,6% setelah debutnya pekan lalu.
Dinamika Harga Minyak
Harga minyak mentah dunia masih fluktuatif di tengah upaya normalisasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Harga minyak Brent terpantau turun tipis 0,2% menjadi US$ 79,68 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) naik tipis 0,1% ke level US$ 75,91 per barel.
Meskipun telah turun dari level tertingginya, harga energi saat ini masih memberikan tekanan inflasi bagi perekonomian global.
Dunia saat ini tengah berjuang menghadapi tekanan inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat konflik berkepanjangan.
Kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral, termasuk The Federal Reserve (The Fed) AS dan BoJ, mencerminkan dilema antara upaya menekan inflasi melalui kenaikan suku bunga dengan risiko melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Kesepakatan diplomatik yang rapuh di Timur Tengah menjadi kunci penting, karena stabilitas di wilayah tersebut akan sangat menentukan aliran pasokan minyak mentah dunia, yang pada akhirnya akan memengaruhi biaya hidup masyarakat global dan stabilitas pasar keuangan di masa depan.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






