Minggu, 21 Juni 2026

Harga Pupuk Meroket Akibat Krisis Selat Hormuz

Penulis : Grace El Dora
27 Apr 2026 | 20:12 WIB
BAGIKAN
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). (Foto: FAO.org)
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). (Foto: FAO.org)

KUALA LUMPUR, investor.id – Dunia kini menghadapi ancaman inflasi baru yang bersumber dari sektor pertanian. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan bahwa lonjakan harga pupuk yang dipicu oleh gangguan rantai pasok global—terutama di Selat Hormuz—tengah menjadi titik tekan utama inflasi yang berdampak luas pada produksi pangan dunia.

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero Cullen, mengungkapkan bahwa pasar pupuk saat ini mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan. Hal ini mencerminkan gangguan pada pasokan bahan baku kritis seperti gas alam dan belerang.

"Harga minyak Brent naik lebih dari 30%, gas alam naik antara 20% hingga 40%, dan harga urea melonjak antara 50% hingga 80%, tergantung negaranya," ujar Torero dalam wawancara di program Bernama World.

Gangguan di Selat Hormuz berdampak fatal karena wilayah tersebut merupakan pemasok utama bahan baku industri pertanian global. Selat ini memasok 20% gas alam dunia yang menjadi komponen kunci produksi pupuk nitrogen. Selain itu, wilayah tersebut menyumbang 50% pasokan belerang dunia yang digunakan untuk memproduksi asam sulfat sebagai bahan dasar pupuk fosfat.

ADVERTISEMENT

"Ini sangat bergantung pada kalender tanam. Negara mana pun di dunia yang sedang memasuki musim tanam harus membayar harga yang lebih mahal untuk pasokan hari ini dan esok," tambah Torero.

Efek Domino: Produksi Turun, Harga Pangan Naik

FAO memprediksi efek samping dari lonjakan harga input ini akan semakin terlihat jelas pada paruh kedua tahun ini. Ketika petani mengurangi penggunaan pupuk karena harganya yang tak terjangkau, maka hasil panen dipastikan akan menurun.

Ketersediaan pangan yang menipis di pasar global secara otomatis akan mendorong harga komoditas pangan melambung tinggi. "Semua ini akan menciptakan produksi yang lebih rendah, ketersediaan yang berkurang, yang berarti harga komoditas akan naik," tegasnya.

Untuk memitigasi dampak ekonomi ini, FAO menyerukan tindakan terkoordinasi secara global, termasuk menghindari pembatasan ekspor pupuk, meningkatkan pemantauan pasar, serta mempermudah akses pembiayaan bagi petani yang terjepit biaya produksi.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa konflik di jalur laut yang jauh seperti Selat Hormuz bisa memengaruhi harga makanan di pasar lokal kita? Jawabannya terletak pada ketergantungan sektor pertanian modern terhadap energi dan bahan kimia.

Industri pangan dunia sangat bergantung pada pupuk kimia untuk menjaga produktivitas lahan. Namun, pembuatan pupuk bukanlah proses yang berdiri sendiri:

- Gas Alam: Digunakan dalam proses Haber-Bosch untuk menarik nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi amonia (bahan dasar urea). Tanpa gas alam yang terjangkau, produksi pupuk nitrogen akan terhenti atau menjadi sangat mahal.

- Belerang (Sulphur): Merupakan limbah hasil penyulingan minyak dan gas. Belerang diolah menjadi asam sulfat untuk melarutkan batuan fosfat menjadi pupuk yang bisa diserap tanaman.

Ketika jalur pengiriman di Selat Hormuz terganggu, arus gas dan belerang terhambat. Akibatnya, biaya produksi di pabrik pupuk melambung.

Beban biaya ini kemudian diteruskan ke petani, dan pada akhirnya, beban tersebut sampai ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga beras, jagung, gandum, dan kebutuhan pokok lainnya. Inilah mengapa ketegangan geopolitik di Timur Tengah bukan sekadar masalah perang, melainkan masalah ketersediaan makanan di meja makan setiap keluarga di seluruh dunia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 40 menit yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 7 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 7 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia