Jumat, 15 Mei 2026

Belum Cukup Meyakinkan Pasar

Penulis : Redaksi Investor Daily
20 Mar 2025 | 13:06 WIB
BAGIKAN
Penggiat bursa memantau pergerakan saham. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Penggiat bursa memantau pergerakan saham. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

Tiga otoritas sektor keuangan di Tanah Air, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencoba meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi Indonesia dalam kondisi baik dan akan terus dijaga baik. Itu mereka lakukan menyusul langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membekukan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit, Selasa (18/03/2025), setelah IHSG anjlok lebih dari 6%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kondisi ekonomi domestik yang baik itu tergambar dari kinerja Surat Utang Negara (SUN) pada lelang Selasa (18/03/2025). Penawaran yang masuk atau incoming bid sangat kuat, yaitu Rp 61,75 triliun atau oversubscribed hampir 1,38 kali dari target indikatif Rp 26 triliun. Dari Rp 28 triliun penawaran yang akhirnya dimenangkan, 19,04% atau Rp 5,33 triliunnya adalah investor asing.

Pemerintah mengeklaim semua itu menggambarkan kepercayaan investor yang tinggi kepada pemerintah dan APBN di tengah keterpurukan pasar saham. Lebih dari itu, imbal hasil (yield)-nya pun tercapai dengan baik, yaitu pada tingkat imbal hasil yang sama dengan secondary market. Ini artinya, pemerintah tidak perlu memberikan premium atau tambahan imbal hasil untuk bisa menarik investor.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) disebut terjaga stabil, dengan imbal hasil SUN 10 tahun pada Selasa (18/03/2025) di level 7,01%. Level ini sama dengan yield posisi awal tahun, 1 Januari 2025. Selisih yield SUN 10 tahun terhadap US Treasury 10 tahun tercatat 267 basis poin (bps), sedangkan Meksiko 521 bps, Afrika Selatan 629 bps, dan Brasil 1.070 bps. Artinya, negara-negara itu harus membayar bunga surat utang jauh lebih mahal.

ADVERTISEMENT

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers rapat dewan gubernur (RDG) bulanan pada Rabu (19/03/2025) juga memastikan tetap berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan untuk menjaga aset keuangan domestik. Ia menyampaikan pesan kepada investor bahwa aset keuangan di Indonesia, khususnya SBN dan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), masih menarik dan akan dijaga tetap menarik bagi investor asing.

Untuk itu, otoritas fiskal dan moneter konsisten dipastikan terus bekerja sama menjalankan sejumlah kebijakan untuk memperkuat fundamental perekonomian di Tanah Air. Hingga kini, imbal hasil SBN dan SRBI masih menarik dan kompetitif bila dibandingkan dengan negara lain seperti India. BI pun berjanji akan menjaga daya tarik itu dengan memastikan stabilitas nilai tukar rupiah serta terus memperbanyak instrumen investasi keuangan.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, gejolak yang terjadi di pasar saham disebabkan oleh sentimen ekonimi global, khususnya Amerika Serikat. Secara kumulatif dari Januari hingga Maret 2025, modal asing keluar dari pasar saham memang mencapai Rp 22 triliun. Namun, di saat yang sama, modal asing masuk ke SBN dan SRBI mencapai Rp 25 triliun. Ekspektasi investor SBN dan SRBI tetap berdasarkan fundamental ekonomi nasional.

Sementara itu, untuk kembali menggairahkan pasar saham, OJK memberikan stimulus berupa relaksasi buyback saham tanpa melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas IHSG. Alhasil, kemarin IHSG bangkit 1,4% ke level 6.311, setelah sehari sebelumnya turun 3,8%. Penguatan indeks juga ditopang oleh pernyataan Menkeu bahwa APBN tetap dikelola secara prudent dan kredibel dan ia juga memastikan tidak akan mundur dari posisi Menkeu.

Upaya ketiga otoritas untuk meyakinkan pasar itu tentu langkah yang baik dan akan diperhatikan oleh investor. Namun, upaya itu sepertinya belum cukup karena belum menjawab sejumlah persoalan yang menjadi biang dari kegalauan pasar selama ini. Persoalan itu adalah ‘pembatalan’ pajak pertambahan nilai (PPN) 12%, efisiensi anggaran, LPG 3 kg, defisit APBN, Danantara, dan dwifungsi TNI. Hanya dengan menjawab sejumlah persoalan itu dengan langkah nyata, level kepercayaan pasar yang melorot akan kembali pulih.

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia