Indonesia: Antara Ambisi Industri Nikel dan Tuntutan Keberlanjutan
23 Mei 2025 | 08:30 WIB
Indonesia saat ini menghadapi dua pilihan kritis, antara mengejar ambisi industrialisasi—khususnya sebagai produsen dan pusat manufaktur baterai kendaraan listrik (electric vehicle atau EV)—atau memenuhi tuntutan keberlanjutan (sustainability) di pasar dunia. Sebagai produsen nikel terbesar dengan cadangan mencapai 55 juta metrik ton, posisi Indonesia memang sangat strategis dalam rantai pasok baterai EV global. Pemerintah menargetkan untuk menjadi salah satu dari tiga produsen baterai EV terbesar di dunia pada tahun 2027, dengan kapasitas produksi mencapai 140 GWh per tahun pada 2030 guna memenuhi hingga 9% dari permintaan global.
Langkah strategis seperti larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 bertujuan untuk mendorong hilirisasi dan menarik investasi asing guna mewujudkan ambisi ini. Oleh karena itu, pemerintah aktif mengundang masuknya perusahaan-perusahaan besar seperti Hyundai-LG, CATL, Foxconn, Ford, BASF, dan LG Solution. Kawasan industri seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah dan Konawe di Sulawesi Tenggara juga berkembang pesat sebagai pusat pengolahan nikel.

