Jumat, 15 Mei 2026

Konsumsi Obat Penghilang Nyeri Berlebihan Dapat Menyebabkan Sakit Ginjal Kronik

Penulis : Mardiana Makmun
16 Mar 2025 | 11:34 WIB
BAGIKAN
Dokter ahli ginjal hipertensi di RS Fatmawati, dr Elizabeth Yasmine Wardoyo, Sp.PD - KGH memaparkan penyakit ginjal kronis pada pasien RS Fatmawati di Jakarta.
Dokter ahli ginjal hipertensi di RS Fatmawati, dr Elizabeth Yasmine Wardoyo, Sp.PD - KGH memaparkan penyakit ginjal kronis pada pasien RS Fatmawati di Jakarta.

JAKARTA, investor.id – Konsumsi obat penghilang nyeri (pain killer) secara berlebihan atau dalam jangka panjang harus diwaspadai. Obat ini dapat merusak ginjal, menyebabkan gangguan ginjal kronis, terutama untuk orang yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal.

“Obat-obat penghilang nyeri ini harus diwaspadai, bisa merusak ginjal, terutama untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal,” kata dokter ahli ginjal hipertensi di RS Fatmawati, dr Elizabeth Yasmine Wardoyo, Sp.PD – KGH dalam kegiatan edukasi penyakit ginjal untuk pasien RS Fatmawati di Jakarta.

dr Elizabeth menyebut, obat penghilang nyeri ini biasa digunakan oleh penderita sakit gigi. “Misal sakit gigi, dikasih pain killer, itu bahaya untuk ginjal, apalagi yang sudah ada gangguan fungsi ginjal, ini akan memperberat ginjal. Karena itu penggunaan pain killer harus konsultasi dokter,” tegas dr Elizabeth.

Bagaimana dengan parasetamol yang kerap digunakan untuk menghilangkan nyeri dan sakit kepala? “Obat parasetamol itu aman untuk ginjal maupun untuk orang yang sudah ada gangguan fungsi ginjal,” jelas dr Elizabeth.

ADVERTISEMENT

Faktor Hipertensi

Gangguan atau penyakit  ginjal kronis (PGK) adalah kondisi medis ginjal rusak secara perlahan sehingga memengaruhi fungsi normalnya untuk menyaring limbah dan kelebihan cairan dalam darah.

Selain obat penghilang nyeri, dr Elizabeth menyebut, sejumlah faktor menjadi penyebab gangguan ginjal kronik. Diantaranya diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit ginjal polikistik, gangguan autoimun seperti lupus, infeksi ginjal berulang, obstruksi saluran kemih, dan penggunaan obat-obatan tertentu yang berlebihan atau jangka panjang.

Selain diabetes, hipertensi tak terkendali menjadi faktor terbesar gangguan ginjal kronik . “Hipertensi akan menyempitkan pembuluh darah di ginjal sehingga aliran darah ke ginjal berkurang, akibatnya ginjal perlahan menjadi rusak,” jelas dr Elizabeth.

Tanpa Gejala di Stadium Awal

Sayangnya, banyak orang tak menyadari menderita PGK karena tidak menunjukkan gejala di stadium awal. “Gangguan ginjal kronis beda dengan batu ginjal yang bikin nyeri pinggang karena ada sumbatan batu. Sebagian besar gangguan ginjal kronis tidak menyebabkan sakit pinggang,” jelas dr Elizabeth.

Gejala gangguan ginjal memberikan gejala bila sudah pada stadium lanjut. “Gejala bisa berupa kencing berbusa atau kaki bengkak karena ginjal tidak bisa mengeluarkan kelebihan air,” ujar dr Elizabeth.

Kencing berbusa, kata dr Elizabeth, itu disebabkan karena ginjal tidak mampu lagi menyaring albumin. “Albumin itu ukuran partikelnya besar. Kalau album ini turun ke bawah dan keluar lewat kencing yang ditandai dengan kencing berbusa, itu tandanya saringan ginjal bocor. Ini harus segera diobati dengan obat,” jelas dr Elizabeth.

Komplikasi Anemia

Gangguan ginjal tahap lanjut bisa menyebabkan komplikasi anemia.  “Penting untuk menjaga fungsi ginjal dan mengendalikan anemia karena anemia merupakan salah satu komplikasi yang umum terjadi pada tahap menengah hingga lanjut penyakit ginjal kronis (PGK) dan cenderung memburuk seiring dengan penurunan fungsi ginjal hingga mencapai tahap gagal ginjal,” ujar dr Elizabeth.

Penanganan anemia pada pasien predialisis berperan penting dalam memperlambat progresi PGK menuju hemodialisis. “Penggunaan long-acting erythropoietin, yang memungkinkan frekuensi injeksi yang lebih jarang, cukup 1-2 kali sebulan, dapat meningkatkan kenyamanan pasien sekaligus mendukung kepatuhan terhadap regimen pengobatan,” jelas dr Elizabeth.

Dr Elizabeth menjelaskan, Efepoetin Alfa merupakan inovasi pengembangan produk bioteknologi yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Kalbe dan anak usahanya dalam menyediakan pilihan terapi yang optimal.

Efepoetin Alfa adalah long-acting erythropoiesis-stimulating agent (ESA) yang terbukti efektif dan aman berdasarkan uji klinis global pada 391 pasien di tujuh negara termasuk Indonesia. Sejak peluncurannya di Indonesia, dalam kurun waktu satu tahun, Efesa sudah memberikan manfaat pada ratusan pasien PGK dalam melindungi kesehatan ginjal mereka.

“Dalam waktu dekat, produk inovatif ini akan segera diluncurkan di berbagai negara guna memperluas akses dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi pasien,” kata Presiden Direktur PT Finusolprima Farma Internasional, Liliana Susilowati.

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 25 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 36 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 40 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia