Jumat, 15 Mei 2026

Kaki Bengkak, Waspadai Gejala Kanker Serviks

Penulis : Mardiana Makmun
29 Apr 2025 | 08:09 WIB
BAGIKAN
Pasien penderita kanker sedang berkonsultasi dengan dokter. (Freepik)
Pasien penderita kanker sedang berkonsultasi dengan dokter. (Freepik)

JAKARTA, investor.id – Kaki bengkak bukan hanya merupakan gejala sakit ginjal. Waspadai kaki bengkak juga gejala kanker serviks (leher rahim).

“Ada pasien saya, perempuan usia 40 tahun, datang dengan kondisi kaki bengkak dan fungsi ginjal nol. Setelah diperiksa, ketahuan kalau dia sakit kanker serviks sudah stadium lanjut,” ungkap Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD, FRSPH, FINASIM dalam acara IVAXCON 2025 yang digelar MSD Indonesia untuk merayakan Pekan Imunisasi Dunia di Jakarta, Sabtu (26/4/2025).

Apa hubungannya kanker serviks di leher rahim dengan kaki bengkak? “Kanker rahim stadium lanjut akan menekan organ-organ sekeliling rahim, termasuk ginjal, sehingga fungsi ginjal untuk menyaring air menjadi terganggu, akibatnya air tertahan di kaki dan bengkak,” jelas dr Dirga.

ADVERTISEMENT

Kanker serviks menjadi salah satu yang menjadi perhatian di Pekan Imunisasi 2025. Bagi perempuan, kanker ini menjadi penyebab kematian nomor dua terbanyak di Indonesia setelah kanker payudara.

“Data WHO menyebut sekitar 99% kanker serviks disebabkan virus HPV (Human Papiloma Virus). Virus ini bisa menyerang semua orang, baik perempuan maupun laki-laki, terutama usia produktif,” ungkap dr Dirga.

Memang, Sebagian besar masyarakat tahu virus HPV hanya menyerang perempuan. Namun, faktanya, 1 dari 4 lelaki berisiko terinfeksi virus HPV. “Selain menjadi penyebab kanker serviks, virus HPV juga menyebabkan penyakit kutil kelamin,” papar dr Dirga.

Data lain juga menyebut, virus HPV juga menyebabkan kanker vagina, kanker vulva, kanker orofaring (tenggorokan), dan kanker penis.

Vaksinasi

Masyarakat harus mewaspadai bahayanya virus ini dan mengetahui penularan terjadi melalui hubungan seksual. Selain hubungan seksual, virus ini juga bisa menulari bayi yang lahir secara normal melalui vagina ibu yang sudah terinfeksi virus ini akibat hubungan seksual.

Karena itu, pastikan laki-laki dan perempuan tidak melakukan seks bebas karena berisiko tertular virus HPV. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi HPV.

“Cara pencegahan paling efektif adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi telah menyelamatkan 4-5 juta kematian di dunia setiap tahun. Dan vaksin HPV telah digunakan sebanyak 1,2 miliar di dunia,” kata dr Dirga.

Sayangnya, kata dr Dirga, ia masih sering menemukan pandangan yang keliru dan missinformasi tentang vaksinasi, termasuk vaksin HPV di tengah masyarakat. “Bahwa vaksin HPV dapat menyebabkan mandul dan lain sebagaina itu tidak benar, itu hoaks,” tegas dr Dirga.

Hal ini juga ditegaskan Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, drg. Murti Utami, MPH. Menurut drg Murti, Pekan Imunasi dapat mencegah kesakitan 3,5 juta anak.

“Sekarang kita kenalkan vaksin untuk kanker serviks. Ini upaya besar, Pemerintah sudah mempunyai rencana jangka panjang sampai 2030 dan 2045. Imuniasi bagian kunci penting untuk diberikan anak-anak kita. Vaksin HPV kita mulai dari 2022, sebagai perlindungan pada remaja putri,” ujar drg Murti.

Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan dr Prima Yosephine mengatakan, dalam Bulan Imunisasi Nasional 2025, imunisasi (vaksinasi) HPV diberikan gratis pada anak sekolah. “Imunisasi HPV kita berikan pada anak sekolah kelas 5 dan 6, dan difokuskan pada anak perempuan lebih dulu. Namun tahun 2025 ini dengan pemberian satu dosis, cukup potensial untuk mencegah HPV pada sasaran primer saja, yaitu anak perempuan kelas 5 saja. Bila ada yang belum dapat, maka dikejar di kelas 6,” kata dr Prima.

Cakupan imunisasi HPV ini, ungkap dr Prima mencapai hampir 90%. Angka yang tinggi dari target 2 jutaan anak. “Tahun ini, kita juga akan catch up dengan target usia sebelum 15 tahun dan mudah-mudahan ini bisa tercapai di angka 95%,” harap dr Prima.

Melengkapi rangkaian IVAXCON, MSD memperkenalkan Nona, chatbot berbasis AI yang dikembangkan sebagai bagian dari kampanye edukasi NgobrolinHPV. Nona dirancang untuk menjadi pendamping virtual yang menyediakan informasi akurat dan mudah dipahami seputar HPV dan vaksinasi, serta menjawab pertanyaan umum dengan pendekatan yang ramah, interaktif, dan berbasis sains. Nona dapat diakses dalam waktu dekat melalui website NgobrolinHPV.com.

----

Editor: Mardiana Makmun

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 21 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 32 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 36 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia