Kerugian Ekonomi 3 Kali Lipat dari Penerimaan Cukai, Kemenkes Tekan Konsumsi Rokok
JAKARTA, investor.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan untuk mengatasi dampak akibat penggunaan produk rokok tiga kali lipat lebih besar, ketimbang penerimaan negara dari cukai yang dihasilkan dari pembelian produk rokok di masyarakat Indonesia.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, berdasarkan data Kementerian Keuangan pada 2017, penerimaan cukai hasil tembakau senilai Rp 147,7 triliun pada 2017, sementara kerugian ekonomi makro akibat produk hasil tembakau mencapai Rp 431,8 triliun di tahun yang sama.
"Kita lihat juga bahwa studi yang ada, setelah menghitung biaya, baik direct cost maupun indirect cost, penerimaan cukai yang saat ini hampir kurang lebih Rp 200 triliun, kalau kita lihat biaya kesehatan yang nantinya akan dikeluarkan sebagai dampak dari timbulnya penyakit akibat rokok mencapai Rp 400 hingga Rp 600 triliun," ungkapnya, dalam media briefing, Senin (2/6/2025).
Karena itu, Nadia menegaskan kerugian ini perlu menjadi perhatian bersama. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama menekan jumlah penggunaaan produk tembakau dan nikotin seperti rokok di Indonesia.
"Tentunya ini menjadi concern kita lebih baik kita mencegah daripada kita harus menanggung biaya pembiayaan yang lebih besar," katanya.
Ada pun sejumlah upaya yang tengah dilakukan Kemenkes dalam dangka pengendalian konsumsi produk tembakau dan nikotin di Indonesia, antara lain:
Pertama, monitor konsumsi produk tembakau dan pencegahannya. Kedua, perlindungan paparan asap rokok orang lain. Ketiga, optimalkan dukungan pelayanan Upaya Berhenti Merokok (UBM). Keempat, waspadakan masyarakat akan bahaya konsumsi tembakau, Kelima, eliminasi iklan promosi dan sponsor rokok. Terakhir, raih kenaikan harga rokok melalui cukai dan pajak rokok.
"Kita tahu bahwa Indonesia memasuki bonus demografi dan kita ingin menyiapkan SDM yang handal pada tahun 2045. Kita ingin memiliki SDM yang kesehatannya baik, tidak memiliki faktor risiko terhadap rokok. Tentunya ini akan menjadi tantangan bagaimana kita di tahun 2045 mampu bersaing bisa menjadi SDM kesehatan yang unggul," pungkasnya.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




