Cegah Pandemi dari Hulu, Pakar BRIN Desak Riset Mendalam pada Kelelawar
JAKARTA, investor.id – Pakar virologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ni Luh Putu Indi Dharmayanti menekankan pentingnya studi mendalam terhadap spesies kelelawar di Indonesia. Langkah ini dinilai krusial sebagai strategi mitigasi hulu untuk mencegah lonjakan penyakit zoonosis.
Secara singkat penyakit zoonosis dapat diartikan sebagai penyakit yang menular dari hewan ke manusia, misalnya virus Nipah.
Dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (24/2/2026), Indi menjelaskan kelelawar menempati posisi unik dalam ekosistem virus. Hewan ini diketahui membawa setidaknya 70 famili virus yang berpotensi mengancam kesehatan manusia.
Indi yang juga menjabat sebagai Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN menyebutkan, meskipun kelelawar tersebar luas di Indonesia, penelitian yang ada saat ini masih sangat terbatas.
"Kolaborasi internasional dalam berbagi data antarlaboratorium sangat diperlukan untuk menyelidiki asal-usul dan pola penularan virus zoonosis," tutur Indi. Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan perawatan, tetapi juga untuk mengendalikan potensi epidemi di masa depan.
Ancaman Virus Nipah dan SARS-CoV-2
Beberapa virus mematikan yang diasosiasikan dengan kelelawar meliputi Ebola, SARS-CoV-2, rabies, hingga virus Nipah. Khusus untuk virus Nipah, tingkat kematiannya sangat mengkhawatirkan, yakni mencapai 40% hingga 75% dari kasus terkonfirmasi.
"Fokus pada kelelawar adalah langkah paling mendasar untuk mencegah pandemi dari hulu," tegas Indi.
Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi kematian terbaru akibat virus Nipah di India dan Bangladesh. Sementara itu, di Indonesia, otoritas kesehatan memastikan situasi masih terkendali. Berdasarkan data periode 2024-2026, terdapat 16 kasus suspek di Indonesia, namun seluruhnya dinyatakan negatif setelah melalui uji laboratorium.
Kelelawar sering kali disebut sebagai "reservoir" alami bagi berbagai jenis virus karena sistem kekebalan tubuh mereka yang unik, yang memungkinkan mereka membawa virus berbahaya tanpa jatuh sakit. Seiring dengan meningkatnya deforestasi dan ekspansi pemukiman manusia ke habitat alami, kontak antara manusia, hewan ternak, dan kelelawar menjadi lebih sering terjadi.
Fenomena ini meningkatkan risiko spillover atau lompatan virus dari satwa liar ke manusia. Belajar dari pandemi Covid-19, identifikasi dini terhadap patogen yang ada pada kelelawar menjadi agenda prioritas keamanan kesehatan global.
Dengan memetakan persebaran virus pada populasi kelelawar di Indonesia, para ilmuwan berharap dapat menciptakan sistem peringatan dini yang lebih tangguh sebelum sebuah virus bermutasi menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang luas.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya
PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang
Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data
Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah PutihKetika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel
Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.Tag Terpopuler
Terpopuler

