Jumat, 15 Mei 2026

BI: Surplus Neraca Perdagangan Maret 2023 Jadi Momentum Jaga Ketahanan Eksternal

Penulis : Arnoldus Kristianus
17 Apr 2023 | 22:59 WIB
BAGIKAN
Kantor Bank Indonesia (BI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)
Kantor Bank Indonesia (BI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menyatakan, surplus pada Maret 2023 sebesar US$ 2,91 miliar menjadi perkembangan positif bagi upaya untuk terus menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Surplus neraca perdagangan Maret 2023 utamanya didorong oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Meskipun melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus US$ 4,58 miliar didukung oleh tetap kuatnya kinerja ekspor nonmigas sebesar US$ 22,16 miliar.

“Ke depan, BI terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain guna semakin meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional,“ Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam pernyataan resmi, Senin (17/4/2023).

Sementara itu, nilai impor Indonesia Maret 2023 mencapai US$ 20,59 miliar atau naik 29,33% dibandingkan Februari 2023 atau turun 6,26% dibandingkan Maret 2022. Impor migas Maret 2023 senilai US$3,02 miliar, naik 25,28% dibandingkan Februari 2023 atau turun 13,67% dibandingkan Maret 2022. Impor nonmigas Maret 2023 senilai US$ 17,57 miliar, naik 30,05% dibandingkan Februari 2023 atau turun 4,86% dibandingkan Maret 2022.

ADVERTISEMENT

Secara terpisah, ekonom PT Bank Mandiri Tbk Faisal Rachmn memperkirakan transaksi berjalan Indonesia akan berubah menjadi defisit yang dapat dikelola sekitar 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023 atau masih di bawah 3% dari defisit PDB. Kinerja ekspor diperkirakan menurun karena penurunan harga komoditas didorong oleh lesunya permintaan global di tengah inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga kebijakan yang berkelanjutan.

“Oleh karena itu, kami masih mengantisipasi bahwa surplus perdagangan cenderung menyusut, terutama pada paruh kedua tahun 2023,” ucap Faisal pada Senin (17/4/2023).

Tetapi Faisal juga memperkirakan bahwa surplus perdagangan dapat bertahan lebih lama dari yang diperkirakan karena penurunan harga komoditas akan lebih bertahap karena pembukaan kembali ekonomi Tiongkok, minyak OPEC+ penurunan produksi, penurunan produksi beberapa komoditas di tengah kemungkinan El Nino yang tinggi tahun ini dan meredanya krisis energi global.

Sedangkan kinerja impor akan menghadapi ketidakpastian tahun ini. Pihaknya masih melihat bahwa pertumbuhan impor nantinya dapat terus membaik karena permintaan domestik terus menguat, menyusul pencabutan PPKM pada akhir tahun 2022 dan keputusan untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional.

“Namun, kami juga mengantisipasi risiko penurunan pertumbuhan impor di tengah harga minyak yang lebih rendah dan ekspor yang lebih rendah. Sebagian bahan baku untuk memproduksi barang ekspor diperoleh dari impor,” pungkas Faisal.

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia