ERIA Ingatkan ASEAN Siapkan Masyarakat Adaptasi AI
JAKARTA, Investor.id – Lembaga riset dan studi ekonomi untuk ASEAN dan Asia Timur ERIA menyebutkan ASEAN harus menyiapkan masyarakat, khususnya tenaga kerja, untuk dapat beradaptasi dan berkompetisi di tengah massifnya pemanfaatan teknologi robot dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
ERIA menyebut ASEAN harus bisa menjadikan perkembangan teknologi automasi sebagai komplemen untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Hal tersebut diungkapkan Penasihat Utama ERIA, Lili Yan Ing.
Berdasarkan hasil riset dan studi ERIA, Lili menyebutkan, terungkap bahwa kekhawatiran utama perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan adalah pemecatan tenaga kerja. Adaptasi robot dan kecerdasan buatan bukanlah sesuatu yang dapat dihindari.
"Kekhawatiran dari temuan-temuan baru mengenai robot dan AI ini adalah pemecatan tenaga kerja. Dampak yang pertama ialah menggantikan mereka yang melakukan pekerjaan manual dan pekerjaan rutin. Robot dan AI bukanlah suatu pilihan, digitalisasi ini sudah terjadi dan akan terus terjadi, tinggal bagaimana ASEAN dan Indonesia menyiapkan tenaga kerja dan masyarakatnya untuk bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi," ungkap Lili dalam High Level Policy Dialogue “Indonesia's ASEAN Chairmanship 2023: Promoting ASEAN Relevance in Global Market”, di Jakarta, Jumat (4/8/2023).
Selain membawa ancaman berupa pemecatan tenaga kerja, dia mengatakan, teknologi robot dan kecerdasan buatan bisa membawa manfaat berupa peningkatan produktivitas. Lili menyebutkan setelah adanya teknologi robot dan kecerdasan buatan ada berbagai macam pekerjaan baru yang sebelumnya tidak terpikirkan dan hal tersebut justru membuka lapangan kerja bagi manusia.
"Dampak reinstatement, AI bisa menciptakan tugas baru yang tadinya belum ada. Contohnya, sekarang banyak digital design, web design, kemudian book keeping juga dilakukan secara digital. Penemuan teknologi digital itu banyak sekali menciptakan tugas-tugas baru yang itu justru menciptakan lapangan kerja," jelas Lili.
Guna bisa memanfaatkan kemajuan teknologi robotik dan kecerdasan buatan, Lili menyebutkan, ASEAN harus membuat regulasi untuk memastikan peningkatan produktivitas dari teknologi automasi dimanfaatkan secara bijak. Regulasi yang dilaksanakan secara bertanggungjawab mampu mengamankan teknologi robotik dan kecerdasan buatan agar menjadi komplemen manusia menuju kesejahteraan.
"Kekhawatiran kami adalah di safeguard. Kalau sampai AI tidak diatur dengan baik dan jatuh di tangan yang tidak bertanggung jawab, contohnya membuat robotic soldier yang kalau jatuh ke tangan manusia yang tidak bertanggung jawab bisa menjadi satu challenge yang sangat berbahaya bagi manusia," terang Lili.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






