Jumat, 15 Mei 2026

Pelaku Pasar Less Optimistic, Masih Tunggu Kebijakan Fiskal Trump

Penulis :  Vinnilya Huanggrio
24 Des 2024 | 15:16 WIB
BAGIKAN
Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/12/2024) mengumumkan pengusaha keturunan Lebanon-Amerika, Massad Boulos, akan menjabat sebagai penasihat seniornya untuk urusan Arab dan Timur Tengah. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)
Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/12/2024) mengumumkan pengusaha keturunan Lebanon-Amerika, Massad Boulos, akan menjabat sebagai penasihat seniornya untuk urusan Arab dan Timur Tengah. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

JAKARTA, investor.id - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed diprediksi akan memangkas suku bunga acuan atau Fed’s Fund Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bp) sebanyak dua kali di tahun 2025 mendatang.

Namun begitu, para pelaku pasar masih menanti secara pasti berbagai kebijakan fiskal setelah Presiden AS Donald Trump dilantik pada 20 Januari 2025. 

Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Mandiri Tbk Dian Ayu Yustina mengatakan, ada potensi angka inflasi upside, namun tidak besar. Hal ini karena Trump merupakan figur yang pro bisnis.

ADVERTISEMENT

“Artinya, dia memang akan mendorong ekonomi Amerika untuk pulih,” tutur Dian dalam acara “Investor Market Today” di IDTV, Senin (23/12/2024).

Menurut Dian, Trump tidak serta merta membiarkan tekanan inflasi naik terlalu tinggi yang berujung menghambat pemulihan ekonomi. 

Karena itu, diharapkan kebijakan fiskal yang diterapkan tidak terlalu ekspansif sehingga dapat menimbulkan pricing ke inflasi supaya masih ada ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.

Setidaknya kata Dian, sentimen kebijakan fiskal Trump ini yang tengah dimitigasi oleh The Fed yang tercermin dari pengurangan ekspektasi pemotongan FFR di tahun depan.

“Memang market itu bergerak dari very optimistic pada bulan September, sekarang jadi less optimistic. Namun kami masih melihat ada peluang penurunan suku bunga The Fed meskipun mungkin tidak sebesar yang kita perkirakan sebelumnya,” tutupnya.

Sebelumnya, depresiasi atau pelemahan rupiah berpotensi masih akan terjadi hingga awal 2025 mengingat banyak ketidakpastian, terutama penantian pasar atas pelantikan presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada 20 Januari 2025.

“Pada 20 Januari Donald Trump dilantik. Jadi nanti akan lebih jelas lagi kebijakan-kebijakan apa yang akan diambil Donald Trump secara resmi ketika memegang kendali pemerintahan di Amerika,” tutur Dian.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 45 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 46 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia