Jumat, 15 Mei 2026

Terjadi Deflasi Tahunan Setelah 25 Tahun

Penulis : Arnoldus Kristianus
3 Mar 2025 | 18:51 WIB
BAGIKAN
Warga memeriksa meteran listrik di Rusunawa Margaluyu, Kota Serang, Banten, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Warga memeriksa meteran listrik di Rusunawa Margaluyu, Kota Serang, Banten, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,09% secara tahunan (year on year/yoy). Sebelumnya deflasi tahunan terjadi pada Maret 2000. Artinya, deflasi tahunan kembali terjadi setelah 25 tahun lalu.

“Menurut catatan BPS, deflasi yoy terjadi pada Maret 2000 saat itu deflasi 1,01%. Deflasi didominasi oleh kelompok bahan makanan,” ucap Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Senin (3/3/2025).

Amalia mengatakan perbedaan deflasi pada Februari 2025 ini terjadi karena dipengaruhi oleh komponen harga diatur pemerintah. Pasalnya deflasi disebabkan oleh diskon tarif listrik sebesar 50% yang terjadi pada Januari–Februari 2025. Kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi 12,08% dan memberikan deflasi sebesar 1,92%.

ADVERTISEMENT

“Komoditas yang memberikan andil terbesar adalah tarif listrik mengalami deflasi 46,45% secara tahunan dan memberikan andil deflasi 2,16%,” kata Amalia.

Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif air minum PAM yang mengalami inflasi 9,42% dan memberikan andil inflasi 0,14%; biaya sewa rumah mengalami inflasi 1,27% dan memberikan andil inflasi 0,04%; bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,57% dan memberikan andil inflasi 0,03%; lalu biaya kontrak rumah mengalami inflasi 0,58% dan memberikan andil inflasi 0,02%.

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,25% dan memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,66%. Inflasi secara tahunan didorong oleh komoditas minyak goreng, sigaret kretek mesin, cabai rawit, kopi bubuk dan ikan segar.

Inflasi kelompok itu didorong oleh minyak goreng mengalami inflasi 10,97% dan memberikan andil 0,13%; sigaret kretek mesin mengalami inflasi 5,58% dan memberikan andil 0,12%; cabai rawit mengalami inflasi 37,07% dan memberikan andil inflasi 0,11%.

“Sedangkan komoditas yang mengalami deflasi tomat sebesar 32,93% dan memberikan andil deflasi 0,11% dan beras memberikan andil deflasi 2,63% dan memberikan andil deflasi 0,11%,” demikian tutur Amalia.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia