Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat, Setelah Catat Deflasi
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi bulanan sebesar 0,48%. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/yoy) terjadi deflasi 0,09% dan secara tahun kalender terjadi deflasi sebesar 1,24%.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa deflasi sebesar 0,09% terutama dipengaruhi oleh program diskon tarif listrik 50% pada Januari dan Februari 2025. Diskon tarif listrik yang diberikan akan menyebabkan angka inflasi menjadi rendah.
“Program ini merupakan bagian dari serangkaian paket kebijakan stimulus ekonomi yang diberikan untuk menjaga daya beli masyarakat,” jelas Febrio dalam pernyataan resmi yang diterima pada Selasa (4/3/2025).
Baca Juga:
Terjadi Deflasi Tahunan Setelah 25 TahunDia mengatakan kebijakan program diskon tarif listrik berdampak pada tren deflasi untuk komponen harga diatur pemerintah (Administered Price). Pada Februari, komponen ini mengalami deflasi 9,02% (yoy).
Di sisi lain, inflasi masih tercatat pada tarif air minum PAM dan rokok. Untuk komponen inflasi inti, tren penguatan masih berlanjut mencapai 2,48% (yoy) yang didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan rekreasi. Perkembangan inflasi inti menjadi sinyal daya beli yang terjaga.
Sementara, pada komponen inflasi pangan bergejolak mulai melandai yang dipengaruhi oleh harga pangan yang terus terkendali, mencapai 0,56% (yoy). “Inflasi pangan diperkirakan terus stabil seiring mulai masuknya panen raya padi dan peningkatan produksi hortikultura,” tutur Febrio.
Pemerintah terus berkomitmen mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan di masa Ramadan, seperti operasi pasar, gerakan pasar murah, serta fasilitasi dan pengawasan distribusi.
Selain itu, seiring dengan masuknya masa panen raya padi, pemerintah juga akan terus menjaga level harga gabah untuk meningkatkan kesejahteraan petani
Untuk menopang daya beli masyarakat atas kebutuhan transportasi, insentif seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) tiket pesawat diberikan pada momentum Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
“Kebijakan ini diharapkan turut memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat berkumpul dengan keluarga merayakan Idulfitri, di samping memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi,” kata Febrio.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






